Pengalaman Pertama Mati Lampu di Taiwan

Hari ini (Jumat 6/6/2014) merupakan hari pertama bagiku merasakan mati lampu di Taiwan. Dulu waktu Degree Bridging ada juga tetapi hanya ngedip saja. Setelah itu tidak pernah mati-mati lagi.

Hari Jumat kami memiliki kelas seminar yang wajib kami ikuti selama empat semester sehingga begitu selesai salam Shalat Jumat aku lansung bergegas pulang dengan sepeda kesayanganku, Si Hitam.

Lima belas menit kemudian aku sudah berada di ruang seminar. Namun belum lama aku duduk di situ tiba-tiba lampunya mati. Ruangan menjadi gelap, panas, dan ribut. Memang seminar belum dimulai sehingga tidak semua mahasiswa telah hadir di ruangan.

Tidak berapa lama kemudian Profesor datang untuk memberitahu bahwa seminar dibatalkan karena listrik tidak akan hidup dalam waktu dekat. Setelah itu kami berhamburan keluar, kembali ke aktifitas masing-masing. Setelah di luar ternyata malah tambah bingung karena semua pada mati, mulai dari internet, AC, sampai dispenser air minum.

Bayangkan, di Taiwan sekarang sedang musim panas. Sebentar saja AC mati maka tinggal di ruangan bagaikan masuk ke liang oven pemanggang roti. Di asrama juga demikian, minimal harus menghidupkan kipas. Kalau tidak maka jangan coba-coba tidur, pasti akan mandi keringat.

Panas di Taiwan aku rasa sangat berbeda dengan di kampung halamanku, Aceh. Udara di Taiwan sangatlah lembab sehingga sangat gerah dan kita akan cepat berkeringat. Maklum lah, kan Negara Taiwan adalah sebuah pulau yang dilingkari oleh laut yang luas, sehingga udaranya kaya akan kandungan air.

Mahasiswa-mahasiswa yang biasanya bersarang di laboratorium semua berhamburan keluar. Mereka, termasuk kami, ngobrol di depan pintu laboratorium kami masing-masing. Kami menunggu listrik dihidupkan kembali karena sudah dijanjikan jam 16 akan dihidupkan kembali.

Teman-teman sedang menunggu listrik menyala, Lokaso di depan Lab CAE.

Teman-teman sedang menunggu listrik menyala, Lokasi di depan Lab CAE.

Walaupun jarang mati listrik, aku heran juga ternyata pemadaman listrik di Taiwan juga tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu. Buktinya panitia seminar tidak mengetahuinya. Kalau mereka tahu pasti seminar akan dibatalkan sejak awal, jadi aku tidak perlu ngebut pulang setelah Shalat Jumat. Ini artinya mereka tidak tahu-menahu tentang pemadaman itu.

Alhamdulillah, pada jam 15:45 listrik sudah hidup lagi, lebih cepat 15 menit dari yang dijanjikan. Teman-teman yang tadinya berkeliaran di luar lab akhir satu persatu masuk lagi.

Gara-gara mati lampu ini, Aku tertarik untuk mengetahui sedikit tentang listrik di Taiwan. Selama ini saya hanya mengetahui kalau listrik di Taiwan memiliki catudaya 110 Volt, beda dengan di Indonesia yang 220 Volt.

Namun pengalaman saya selama tinggal di Taiwan, alat elektronik yang saya beli di Taiwan tetap bisa saya pakai di Indonesia. Begitu juga sebaliknya, laptop yang saya beli di Indonesia juga aman-aman saja ketika saya gunakan di Taiwan. Jadi heran apa sebenarnya pengaruh perbedaan catudaya terhadap komponen elektronik.

Tentang sumber enegri listrik di Taiwan, dari hasil googling, saya mendapatkan informasi ternyata listrik di Taiwan tidak dimonopoli oleh satu perusahaan saja. Berbeda dengan di negara kita yang hanya dimonopoli oleh PLN.

Setidaknya ada sembilan perusahaan yang memproduksi energi listrik untuk Taiwan, yaitu: [sumber]

Padahal negara Taiwan tidaklah besar. Hanya sedikit lebih besar dari provinsi Aceh. Penduduknya juga tidak terlalu banyak sehingga untuk bekerja di perusahaan-perusahaan di Taiwan sebagian besar dipenuhi oleh tenaga kerja asing, termasuk Indonesia.

Bayangkan bagaimana penting rasanya energi listrik bagi mereka sehingga perusahaan listrik tidaklah cukup satu. Dan sekarang lihatlah ke Aceh, energi listrik hanya dipasok dari Si Gura-gura yang berada di Medan. Satu sumber listrik ini dikeroyok ramai-ramai oleh penduduk Aceh dan Medan. Sehingga wajarlah kalau harus digilir.

Energi listrik di Taiwan diproduksi dari beberapa macam sumber energi. Yang terbesar dihasilkan oleh energi thermal sebesar 54% dan disusul oleh energi nuklir sebesar 12,6%. dan sisanya diproduksi dari beberapa sumber energi yang lain, termasuk hidro dan energi terbarukan lainnya. [sumber]

Produksi energi listrik di Taiwan

Dari gambar di atas kita bisa melihat bahwa energi listrik di Taiwan paling besar juga dihasilkan dari bahan bakar fosil, sama seperti negara kita. Dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tetapi lihatlah pengembangan nuklir mereka juga meningkat walaupun tidak drastis. Namun menduduki di tingkat kedua setelah bahan bakar fosil. Sedangkan sumber energi lain seperti hidro dan energi terbarukan hanya menyumbang sebagian kecil.

Tentang nuklir ini menarik karena sekarang sebagian besar negara-negara berkembang di dunia sedang mengembangkan energi nuklir untuk listriknya. Namun di Indonesia masih terus terhambat karena berbagai macam alasan. Hambatan terbesar adalah ketakutan yang terlanjur tertanam dalam pikiran kita. Sehingga setiap rencana pembangunan reaktor nuklir akan selalu diramaikan oleh unjuk rasa penolakan.

Padahal negara-negara lain selama ini enjoi-enjoi saja dengan energi nuklirnya. Termasuk Taiwan tidak ada masalah dengan teknologi nuklir mereka. Belum pernah kita dengar ada penduduk yang mati karena pengembangan energi nuklir mereka.

Ya, kalau kita mungkin enjoi dengan byar pet-nya, sehingga lilin jadi laris manis. Dan kadang-kadang rumahpun ikut terbakar karena lupa mematikan lilin ketika listrik hidup.😦

About Usman Blangjruen

Dosen Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe
This entry was posted in Catatan Harian and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s