Jalan-jalan Ke Pasar Tradisional Kaohsiung, Taiwan

Kemarin sore teman satu lab ingin berbelanja ke pasar tradisional, namanya Minh Tai dan Minh Phu. Mereka berdua adalah teman baikku di lab CAE. Sama seperti aku mereka juga mahasiswa doktor. Mereka mengajakku untuk mengikut. Akupun tidak menolaknya. Maksudku mengikut bukan untuk berbelanja tentunnya, melainkan hanya ingin melihat-lihat dan mengambil foto saja.

Ketika mereka mengajakku, aku melihat ke arlojiku sebelum mengiyakan. Jam menunjukkan pukul 17:30 kala itu, dan waktu Magrib untuk Kaohsiung pukul 18:43. “Ya. Aku ikut” jawabku dengan penuh keyakinan kerena tidak terbentur dengan waktu shalat Magrib.

Namun setelah mengiyakan aku sempat mau merubah pikiran karena perutku sangat lapar, aku ingin ke warung makan saja.

“Aku mau makan saja lah, tidak jadi pergi. Aku lapar” kataku.

“Hei. Kamu sudah gemuk itu, janganlah hanya makan yang kamu pikir. hahahaha” kata Minh Phu dengan nada bercanda.

“Hahahahaha. Oke lah Aku ikut” jawabku.

Aku bergegas mengambil kamera saku di laci mejaku. Aku selalu membawa kamera ketika pergi ke mana-mana, karena aku ingin mengabadikan situasi tempat yang aku kunjungi.

Pasar itu tidak jauh dari kampus kami, hanya berjarak dua kilometer. Kami bertiga bersepeda ke sana. Minh Phu dan Minh Tai berboncengan sedangkan aku sendiri dengan sepeda mungilku, si hitam dari Mbak Ahong.

Hanya sekitar 10 menit kami sudah tiba di depan pasar tradisional itu. Kami memarkirkan sepeda kami di antara kawanan sepeda motor. Biarpun hanya sepeda kami tetap menguncinya untuk keamanan, walaupun selama ini belum pernah aku dengar ada sepeda yang hilang di sekitarku.

Dua temanku yang dari Vietnam itu langsung mencari dan membeli apa yang mereka butuhkan, sedangkan aku sibuk mengambil foto barang-barang dagangan di pasar itu. Sekali-kali melihat ke arah mereka biar tidak ketinggalan.

Mulai dari penjual kue, buah-buahan, sayur-sayuran, kerang, ikan, dan mulai dari daging ayam sampai daging babi semua aku ambil fotonya. Untuk yang daging babi aku mengambil fotonya dengan hati-hati, aku takut kejipratan airnya.😀

Dari sekian banyak barang yang dijual di sana, Banyak juga yang sudah pernah aku lihat di Indonesia dan ada beberapa juga yang belum pernah aku lihat. Rasanya juga belum pernah kucoba.

Dulu waktu makan di warung vegetarian pernah mencoba sayur yang belum pernah aku makan di kampung halamanku. Begitu aku makan sedikit ternyata mulutku jadi gatal. Akhirnya aku tidak jadi makan lagi sayur itu, dan aku sisihkan ke pinggir piring.

Sekarang tidak mau lagi coba-coba. Aku hanya memesan sayur yang rasanya sudah aku ketahui, untuk perut tidak perlu coba-coba.

Yang ini buah apa ya? Aku belum pernah lihat di Indonesia. :-D

Yang ini buah apa ya? Aku belum pernah melihat di Indonesia. Ada juga yang berwarna hijau loh😀

Ini lagi buah apa ini? hahahahaha. Kulit nya berbulu

Ini lagi, buah apa ini? hahahahaha. Kulit nya agak berbulu. Gatal tidak ya..?

Ini juga buah apa ya.? seperti ketela tapi ada jambulnya. :-D

Ini juga buah apa ya.? seperti ketela tapi ada jambulnya.😀

Ada yang menarik di antara sekian banyak barang dagangan di situ, adalah daun pakis. Dalam bahasa Aceh disebut dengan “on paku“, ternyata juga dijual di Taiwan. Saya tidak menyangka ini.

Daun pakis ini adalah sayur faforitku. Kalau pulang kampung, aku sering meminta ibuku mengurap pakis ini. Di Aceh terkenal dengan sebutan “on paku teucicah” atau kalau diterjemahkan kira-kira “daun pakis terurap”.

Di Aceh, daun pakis ini selain bisa kita beli di pasar juga bisa kita petik sendiri di pinggir-pinggir paya. Dia hidup dengan mudah di daerah yang agak berair.

Setahuku pakis ini tidak pernah dibudidayakan di Aceh, mungkin saja dikarenakan daun ini masih mudah sekali didapatkan tanpa harus dibudidayakan. Namun di Taiwan mungkin saja dibudidayakan, karena aku lihat bentuknya sangat rapi-rapi dan bersih-bersih.

Daun Pakis di Pasar Tradisional Taiwan

Daun Pakis di Pasar Tradisional Taiwan

Dari pemandangan di pasar tradisional tersebut, budaya makan Taiwan hampirlah sama dengan kita di Indonesia. Memang sih, kita kan sama-sama orang asia. Tumbuhan yang tumbuh di Indonesia pun sebagian besar bisa tumbuh di Taiwan. Jadi not much different lah. Hampir sama.

Rekan-rekan yang mau melihat foto selengkapnya bisa melihat di sini

Salam dari Kaohsiung, Taiwan..🙂

About Usman Blangjruen

Dosen Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe
This entry was posted in Catatan Harian and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Jalan-jalan Ke Pasar Tradisional Kaohsiung, Taiwan

  1. missasoen says:

    Duh, mas keliatan banget gak pernah nemenin istrinya ke dapur yah😀 gambar yang pertama itu mirip kaya pare/paria kalo disini. Rasanya pait, tapi bisa diakalin dengan naburin garam supaya ga terlalu pahit rasanya.Gabar yang ke-3 itu sayur lobakkan?cumaukuran disana aja yang besar2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s