Perjalanan Menghadiri Undangan Syukuran Di Tainan.

Sudah lama sebenarnya keinginan hatiku untuk berkunjung ke Tainan ini. Karena kota yang terletak di utara Kaohsiung ini telah sangat sering aku dengar semenjak aku menginjakkan kaki di Formosa ini, baik dari teman-teman sekamar maupun se-laboratorium. Rata-rata mereka sudah pernah berkunjung ke sana. Bahkan ada di antara mereka yang sudah pernah berkali-kali ke sana.

Cerita mereka tentang kota ini tidak sanggup menjadi magnet yang akan manarik langkahku untuk berkunjung ke kota ini. Namun hari ini (27/4/2014) berbeda, kakiku bagaikan terseret untuk melangkah menuju ke kota ini.

Keinginan kuat ini timbul karena ada salah satu teman asal Aceh, Pak Firman, untuk mengadakan syukuran atas kelahiran putrinya, maka aku dan beberapa teman lain di Kaohsiung turut diundang untuk menghadiri peralatan itu. Namun sayang, karena berbagai macam kesibukan, dari Kaohsiung hanya aku yang bisa memenuhi undangan itu.

Peralatan itu diadakan pukul 13:00 di kampus National Cheng Kung University, maka pagi hari itu pun aku bangun lebih awal dari biasanya, pukul 10 aku sudah keluar asrama. Sebelum keluar ke tempat penantian bis terlebih dahulu aku singgah sebentar di laboratorium untuk mengambil tas dan kameraku, kemudian aku langsung keluar laboratorium dengan menitip pesan; “Jika Profesor datang dan menanyakan aku, tolong bilang aku sedang di Tainan.”

Menurut keterangan teman-teman tuan rumah, aku harus naik kereta api untuk pergi ke sana, karena kampus tempat acara itu diadakan lokasinya sangat dekat dengan stasion kereta api Tainan. Maka aku harus berangkat dari Kaohsiung Main Station untuk memulai perjalanan dengan kereta api.

Sebelum berangkat ke Tainan, aku makan dulu di warung Pak Zainal yang ada di seputaran Main Station agar lebih nyaman dalam menghadiri acara dengan tidak diburu oleh lapar, karena aku tidak pernah makan pagi. Biasanya aku memang makan pukul 11 sebagai gabungan makan pagi dan siang. Bahasa keren untuk kebiasaan kere ini adalah “brunch”, artinya makan pagi telat sehingga makan siang bisa ditiadakan. Kebiasaan yang memanjakan isi dompet namun menyiksa isi perut.😀

Setelah makan kemudian aku bercepat-cepat pergi ke stasion kereta agar tidak terlambat karena jam sudah menujukkan pukul 11:45. Lagipula ini adalah kunjungan pertamaku ke Tainan, aku belum tahu lama waktu tempuhnya. Dan lokasi kampus tempat acara itu diadakan juga aku belum tahu.

Setelah membeli tiket dan bertanya sana-sini kemudian saya sampai di platform untuk siap naik ke kereta api. Kereta apiku itu sudah siap di parkiran karena waktu keberangkatan, jam 12:00, sudah hampir tiba. Saya bergegas masuk ke gerbong kereta nomor 6 bangku 25 sebagaimana tertulis pada tiketku. Tidak lama setelah aku duduk maka kereta pun berangkat. Tepat jam 12:00.

Di tengah perjalananku itu aku mengisi waktuku dengan membaca buku percakapan bahasa Mandarin dengan sesekali membuka hape untuk melihat notofikasi fesbuk. Siapa tahu ada yang berkomentar, karena beberapa saat yang lalu aku mengunggah foto kabin kereta biar orang pada tahu kalau aku sedang pergi ke Tainan naik kereta api.😀

Suasana kabin kereta api

Suasana kabin kereta api

Kereta yang aku tumpangi ini ternyata tidak berhenti di stasion-stasion kecil sehingga 45 menit sudah tiba di stasion Tainan. Setelah kereta berhenti aku menanyakan pada orang duduk di sampingku; “Tainan dou le ma..?”. Dia mengangguk sebagai isyarat benar sambil berbicara agak panjang dengan bahasa Mandarin. Aku cepat-cepat turun sambil berkata “xie xie ni”. Takut diajak bicara lagi karena hanya dua kalimat itu yang aku hafal.😀

Sesampai di luar gerbong aku mengikuti saja arah keluar kebanyakan orang seperti anak bebek yang mengikuti induknya. Sampai saat itu aku masih yakin kalau aku tidak salah pintu keluar.

Sebagai kali pertama aku berada di Tainan, aku terpesona melihat kondisi luar stasion yang rapi lengkap dengan bundarannya, hampir seperti bundaran HI minus air mancurnya. Walaupun Kaohsiung Main Station lebih besar dan lengkap, namun soal keindahan tataletak aku lebih tertarik dengan stasion Tainan ini.

Kondisi depan stasion kereta api Tainan

Kondisi depan stasion kereta api Tainan

Setibanya di luar aku menelpon Pak Edo yang dari awal telah bersedia untuk menjemputku kalau sudah sampai di stasiun. Pak Edo sedang shalat maka yang mengangkat adalah Pak Firman yang kebetulan sedang berada di rumah Pak Edo.

Aku menunggu jemputan Pak Edo di depan sebuah warung swalayan “7 Eleven”. Aku menunggu sambil bernyanyi lagu Bang Haji Rhoma Irama. Namun belum lama aku berdiri di situ, aku merasa risih karena banyak cewek-cewek yang bersliweran di depanku dengan pakaian serba minim, sebagai efek musim panas di Taiwan. Sehingga aku pindah lokasi ke dalam stasion, gabung bersama para calon penumpang di kursi tunggu.

Sekitar beberapa menit menunggu maka hape-ku berdering. Pak Edo menelpon. Saat itulah baru aku tahu kalau aku salah pintu keluar. Bangunan bulat menjulang tinggi yang dibilangnya tidak terlihat oleh mataku. “Oh. berarti salah keluar Bang. tunggu saja di depan 7 Eleven,” katanya. Tetapi aku menunggu saja di dalam stasion, tidak mau balik lagi ke tempat itu.

Seharusnya aku tadi keluar melalui rear exit atau pintu keluar menuju belakang stasionJika kita keluar melalui pintu belakang ternyata kita langsung dapat melihat tulisan pamflet kampus National Cheng Kung University. Dan di depannya ada sebuah gedung bulat tinggi berwarna biru.

Bagunan bulat tinggi di dekat Stasion Tainan

Bangunan bulat tinggi di dekat Stasion Tainan

Sekitar 20 menit di situ akhirnya aku dijemputnya. Dengan sepeda motor khas Taiwan itu dia membawaku ke tempat acara. Sambil memperkenalkan beberapa warung Indonesia di sekitar stasion. Lumayan banyak juga, namun maaf aku tidak sempat mengambil gambarnya.🙂

Di depan kampus National Chenk Kung University

Di depan kampus National Chenk Kung University

Tidak berapa lama kami sudah sampai di depan kampus itu. Kampus itu ternyata sangat indah, suasana pendidikan sangat terasa sejak awal aku memasuki jalan yang bersebelahan dengan pagar kampus itu. Memasuki jalan itu mengingatkanku akan Jalan Darussalam di Banda Aceh di antara UIN Arraniry dan Unsyiah.

Pemandangan depan kampus National Cheng Kung University

Pemandangan depan kampus National Cheng Kung University

Kami berjalan kaki bersama Pak Edo menelusuri indahnya kampus itu. Sesekali aku meminta difoto dengan latar yang menurutku sayang kalau tidak diabadikan. Diantaranya adalah tugu Kungfu dan Banyan Garden.

Tugu Kungfu

Tugu Kungfu

Melihat Banyan Garden ini benar-benar mengingatkanku Alun-alun Kidul Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Lapangan rumput hijau ini dihiasi oleh beberapa pohon beringin berdaun jarang menghalangi sebagian sinar matahari sampai ke tanah dan sebagiannya lagi lolos melalui celah antara dedaunannya.

Awalnya acara syukuran mengambil tempat di lapangan Banyan ini, numan karena sedang digunakan untuk kegiatan lain maka lokasi agak digeser sedikit ke luar lapangan, tapi masih di sekitar itu juga, di bawah pohon beringin di pinggir jalan lingkar lapangan itu.

Sebenarnya ada satu lagi yang menarik, yaitu Danau yang berada di hadapan Banyan Garden ini. Cuma sayang, aku tidak sempat mengambil gambarnya karena buru-buru mau ke lokasi acara. Waktu pulang juga saya lupa memfotonya karena keasyikan bercerita sambil berjalan pulang.

Banyan Garden

Banyan Garden

Sesampai di lokasi acara teman-teman sudah menunggu lengkap dengan makanan khas Aceh. Ada beberapa orang dari mereka sudah saya kenal walaupun di dunia maya. Namun banyak dari mereka belum kukenal baik di dunia maya maupun nyata. Karena ini adalah kali pertama aku mengikuti acara bersama teman-teman Aceh selama berada di Taiwan.

Sebelum makan narsis dulu.....

Sebelum makan narsis dulu…..

Sesudah semua hadir maka acara pun dimulia. Diawali dengan pembukaan oleh yang empunya hajat, Pak Firman, dengan sedikit kata sambutan. Sekaligus memperkenalkan nama putrinya yang baru lahir itu. Saya lupa nama putrinya itu.😀

Tetapi yang jelas dari penuturannya itu, rupanya Pak Firman mengerti juga tentang Astronomi. Buktinya salah satu kata di dalam nama putrinya itu berarti “sunrise”, yang dalam ilmu falak itu disebut dengan “Syuruq”. Dan ada juga sangkut-pautnya dengan ekuinoks karena dia terlahir pada bulan Maret di mana matahari sedang berada di atas garis khatulistiwa. Sehingga seluruh dunia mempunyai panjang siang sama dengan panjang malamnya, ini terjadi pada tanggal 20 – 21 Maret dan 22 – 23 September untuk setiap tahunnya.

Setelah kata-kata sambutan maka acara makan-makan pun dimulai. Acaranya berlangsung dengan hangat karena selalu diselingi dengan tertawa riang. Lumayan bagiku untuk menghilangkan penat karena selama ini digalaukan oleh persiapan ujian kualifikasi doktorku.

Aneka makanan dalam syukuran. Sebenarnya ada beberapa lagi cuma tidak kefoto

Aneka makanan dalam syukuran. Sebenarnya ada beberapa lagi cuma tidak kefoto

Setelah acara makan-makan selanjut kami semua saling memperkenalkan diri masing-masing secara bergiliran mulai dari Pak Taufiq dan aku yang terakhir kerena sebagai bintang tamu.😀 . Di situlah aku baru mengerti bahwa aku termasuk yang tertua di antara mereka semua. Untuk keberkahan acara ini maka acarapun ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Pak Taufiq.

Foto bareng setelah acara makan-makan

Foto bareng setelah acara makan-makan

Sesi selanjutnya adalah foto bareng di bawah salah satu pohon beringin di lapangan Banyan Garden. Agar semua masuk ke foto kami meminta orang lain untuk mengambil fotonya. Setelah itu kami berkemas untuk kembali ke tempat masing-masing. Sebelum kembali Kaohsiung aku singgah dulu di rumah Pak Edo untuk Shalat Ashar dan Zhuhur yang sudah aku niat jamak tadi ketika baru tiba di tempat Acara.

Acara yang berlangsung singkat itu memberi kesan pertama akan kekompakan pelajar Aceh yang sedang memburu ilmu di Taiwan ini. Aku pasti ingin bertemu lagi dengan mereka. Aku tunggu kedatangannya di Kaohsiung.🙂

About Usman Blangjruen

Dosen Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe
This entry was posted in Catatan Harian and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Perjalanan Menghadiri Undangan Syukuran Di Tainan.

  1. Karis says:

    Mantabs mas…. kalau sama2 di perantauan itu semua terasa sebagai keluarga. Jadi pengen keluar negeri euy…. kapan yaaaa heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s