Pengemis Dan Tisu

Hari Minggu kemarin aku pergi ke warung makan Indonesia. Seperti biasa kalau hari minggu aku makan sore di sana karena sebagian warung vegetarian di sekitar kampusku tutup pada hari itu. Sebaliknya warung makan Indonesia justru menyediakan makanan dengan lauk-pauk yang lengkap pada hari minggu. Kalau hari-hari yang lain menunya terbatas pada yang tertera di daftar menu saja.

Pada hari minggu pelayanannya juga beda. Kalau hari biasa kita harus pesan dulu baru dimasak, tetapi pada hari minggu pelayanannya bersifat prasmanan alias ambil sendiri karena lauknya sudah siap saji. Hal ini dikarenakan pada hari minggu di seputaran Main Station penuh disesaki oleh teman-teman pekerja Indonesia yang sedang menikmati hari libur mereka. Sehingga Main Station terlihat seperti Indonesia kecil ketika hari minggu tiba. 

Pukul 16:30 aku berangkat ke Main Station dengan bis R30 yang melewati di depan kampusku. Sekitar 20 menit yang saya sudah tiba di sana. Setelah turun dari bis saya langsung menuju ke warung langgananku; yaitu warung Pak Zainal Abidin.

Begitu sampai di sana aku agak sedikit kecewa karena ikan sudah tidak ada lagi di rak prasmanan. yang ada cuma rendang daging lembu dan telur rebus sambal. Sambil garuk-garuk kepala kubertanya pada istri Pak Zainal yang sedang duduk di meja kasir

“Mbak, ada lele ga..?,” tanyaku

“Ada..,” Jawabnya sambil tersenyum, “Suka lele ya..?”

“Sebenarnya suka ikan, cuma saya lihat udah ga ada lagi tu,” jawabku sambil melihat ke arah rak prasmanan.

“Tadi ada mas, cuma sudah habis,” jelasnya

“Ya udah ga papa mbak, lele aja,” ujarku sambil mencari kursi kosong menunggu.

Kemudian Ibu Zainal menyuruh salah satu pekerja di warung itu untuk menggoreng lele buatku. Akupun menunggu sekitar 10 menit-an sambil utak-utik hapeku yang sudah pernah jatuh beberapa kali itu.

Setelah selesai digoreng kemudian lele dihidangkan ke hadapanku lengkap dengan lalapan dan sambalnya. Saya tidak suka lalapan plus sambal itu, maka saya hanya mengambil lelenya saja,yang lainnya aku kembalikan.

“Mbak, saya ga usah lalapannya Mbak, Aku ambil lelenya saja,” kataku sambil memegang lele itu di ekornya yang masih panas dan kutaruh ke dalam piring kosong lain.

Selanjutnya Aku mengambil nasi, sayur nangka, dan kuah tempe; campur menjadi satu dalam piring itu. Sehingga aku harus jalan pelan-pelan serta ekstra hati-hati agar isi piring tidak tumpah karena sudah hampir penuh.😀

“Berapa Mbak,” Aku menanyakan harga.

“Mmmm, seraaaaaatus dua puluh….!,” jawabnya tegas setelah memutar-mutar piring nasiku dan melihat-lihat isinya.

Setelah membayarnya kuambillah piring nasiku yang hampir penuh itu menuju tempat duduk yang kosong dengan tetap jalan dengan hati-hati dan konsentrasi tingkat tinggi.

Sesampainya di tempat duduk aku menyantap masakan itu sedikit demi sedikit mulai dari pinggir piring. Belum sampai sepertiga nasi itu kumakan, tiba-tiba datanglah seorang pengemis yang tidak asing lagi di mataku.

Dia menadahkan tangan ke arahku sebagai isyarat minta duit. Dan aku melambaikan tangan tanda tidak mau memberi. Bukan karena pelit, tetapi memang aku tidak suka memberi sesuatu kepada pengemis yang tidak kukenal asal-usulnya.

Raut mukanya terlihat kecewa melihat jawabanku yang tidak sedikitpun menaruh belas kasihan kepadanya. Sehingga dia menuju ke pasangan laki perumpuan yang duduk di sampingku. Mereka sedang makan sate dengan pasangannya.

Untuk yang kedua kalinya dia juga tidak mampu mengetuk hati orang itu. Yang dia lihat hanyalah lambaian tangan pertanda “tidak”. Akhirnya dengan wajah agak bengis diambilnya satu pak tisu yang sudah setengah kosong yang ditaruh di atas meja makan dan keluarlah dia dengan segera setelah melakukan aksinya.

Aku dan orang yang disampingku tadi saling menatap dan ketawa melihat tingkah  laku pengemis itu.

“Aneh-aneh saja,” kataku sambil ketawa.

Tetapi aku baru sadar setelah beberapa saat pengemis itu menghilang dari depan mataku. Sadar kalau tisu bagi dia dan yang lainnya di beberapa negeri merupakan kebutuhan sehari-hari. Tanpa tisu sama saja dengan tanpa air jika mereka mau ke toilet untuk buang air besar. Dan tisu itu harus dibeli, dan itulah sebabnya kenapa pengemis itu mengambil tisu itu. Tidak ada uang, maka tisu pun jadi.

Lamayan bisa tahan satu minggu untuk jumlah tisu yang diambil tadi, dengan hitungan buang air besar sekali sehari dan tiga helai tisu untuk sekali pakai. Kalau mencret tentu lainlah ceritanya, mungkin bisa menghabiskan tiga kotak tisu perhari.😀

Makanya,,, kalau sedang di Main Station kalau ada pengemis yang minta-minta sesuatu  dan Anda tidak punya uang maka kasihkan saja tisu sebagai gantinya.😀

About Usman Blangjruen

Dosen Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe
This entry was posted in Catatan Harian and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s