Aku dan Tiga Potong Bakwan Di Warung Vegetarian

Tidak ada yang beda hari ini. Aku keluar asrama pada jam 11 pagi. Setalah mandi dan shalat kemudian aku mengambil gantungan kunci dan kukalungkan pada leherku. Gayung merah jambu juga tidak lupa kubawa serta untuk mengambil air hangat pada sebuah mesin air dekat pintu turun ke lantai satu.

Saya terbiasa minum air hangat seteguk dua teguk sembari turun ke lantai satu asrama dan keluar melalui melalui pintu utamanya. Saya tahu kebiasaan minum sambil berjalan adalah tidak elok, tetapi kebiasaan ini seolah tidak bisa kuhentikan.

Gayung air kupegang dengan tangan kananku dan yang kiri untuk memegang sebuah kartu plastik berwarna putih. Sesampai di depan pintu aku tempelkan kartu itu pada sebuah kotak yang tidak aku tahu namanya, tetapi aku tahu fungsinya, karena pintu asrama langsung terbuka setelah mereka kudekatkan.

Sampailah aku keluar asrama, Aku melihat suasana Kaohsiung sangat cerah pagi ini. Walaupun Matahari sudah hampir betengger di meridian langit, namun hawa panas belum terasa. “Kaohsiung memang tidak begitu panas tahun ini,” pikirku.

Aku terus berjalan ke arah kiri menuju ke garasi tempat aku standarkan sepeda kesayanganku. Sepedaku berwarna hitam ukuran sedang dan punya raga di depannya yang juga berwarna hitam. Sepeda itu kubeli 2 bulan lalu pada Mbak Ahong. Sepeda bekas yang tidak jadi dipakai oleh anaknya karena terlalu besar buat dia.

Garasi hanya berjarak 100 meter dari pintu asramaku. Saya berjalan ke arahnya sambil minum air hangat tadi seteguk demi seteguk. Hari ini aku mengambil air terlalu banyak rupanya, akibatnya sampai ke garasi air itu belum habis kuminum. Terpaksa sisanya kutumpahkan ke tanah garasi yang kering. Untuk menghilangkan rasa bersalah, maka kuniatkan untuk mengurangi debu agar udara sekitar tetap bersih.

Gayung plastik kemudian saya taruh ke dalam raga sepeda. Lalu badanku membungkuk sambil memegang salah satu kunci bulat panjang beralur yang masih tergantung di leherku. “Takkkk….!” kunci sepedaku terbuka. Aku mengambilnya dan melaju dengan sepedaku melalui jalan belakang asrama menuju pintu gerbang serta belok kanan  dan sampailah ke sebuah warung makan vegertarian yang hanya berjarak 300 meter itu.

Sesampainya di depan warung aku melihat menu utamaku belum terlihat, yaitu gorengan sebagai “bakwan” di Indonesia. Bakwan itu bisa terlihat dari luar warung karena memang selalu ditaruh di atas etalase kaca yang setinggi dada orang dewasa. Sedangkan menu yang lain seperti sayur-mayur di taruh di dalamnya.

Hari-hari biasanya, kalau aku melihat bakwan itu belum ada, aku langsung mengayuh sepeda lagi setelah memperlambat lajunya untuk melihat ke dalam warung. Tetapi hari ini tidak demikian, aku masuk ke warung itu. Sambil mengeluarkan kata andalan Bahasa Mandarinku, “Ni hao” dan dijawab oleh mereka dengan kata itu lagi.

Setelah itu mereka langsung berkata kepadaku dalam Bahasa Mandarin, kata-kata itu tidak bisa aku ulang tatapi saya tahu maksud dan artinya, “Bakwan kesukaan kamu belum matang, tunggulah beberapa saat lagi,” kira-kira begitu artinya. “Mei kwansi, mei kwansi,” Aku menjawabnya sambil mencari tempat duduk untuk menunggu, Artinya itu adalah “tidak apa, tidak apa”.

Mereka ternyata sudah tahu betul kalau saya tidak mau makan tanpa bakwan itu. Tapi saya yakin mereka tidak tahu kenapa. Dan mungkin teman-teman juga belum tahu persis apapula sebabnya. “Baiklah, aku ceritakan apa sebabnya”:

Aku memilih warung vegetarian bukannya aku pengikut paham vegetarian yang tidak makan daging. Tapi aku adalah manusia omnivora pemakan segalanya, namun karena alasan Agama yang aku anut, Islam, aku tidak diijinkan makan daging babi dan daging apapun jika disembelih oleh orang yang tidak seiman dengan aku selain Ahlul Kitab.

Di sisi lain aku tidak bisa makan tanpa daging, kalaupun dipaksa untuk tidak makan daging saya akan tetap merasakan lapar padahal perutku  sudah penuh. Rasa ini cukup membuat kensentrasi belajarku buyar.

“Lalu, bakwan itu apa urusannya?,” mungkin saja aku ditanya orang.

“Hanya bakwan itulah yang sanggup menandingi rasa daging-daging itu,” Jawabku.

Walaupun bukan padannya, namun bakwan itu telah mampu membuat aku lupa rasa daging dan ikan selama berhari-hari. Secara kasat mata aku adalah vegetarian, tapi jauh di alam pikiranku aku seolah-olah sedang makan daging ketika aku menggigit bakwan itu dengan gigiku yang masih berkawat. 

Inilah pasalnya kenapa aku rela menunggu sampai bakwan itu matang.  

Saya telah menunggu setengah jam. Sambil menunggu saya menyibukkan diri dengan membaca berita di telepon gemgamku. Tiba-tiba terdengar suara dengan bahasa Mandarin dari arah etalase

“Hai, ini sudah selesai, makan sekarangkah?”, begitu kira-kira arti kalimat yang aku dengar setelah hampir 30 menit menunggu.

“ya ya. Wo Sientzai Chi,” jawabku yang artinya, “ya ya, Saya makan sekarang”.

Maka aku berdiri menuju ke depan etalase itu. Mereka langsung menaruh 3 potong bakwan itu ke piring yang telah terisi nasi, mereka tidak tanya-tanya lagi karena sudah paham betul mereka kalau urusan bakwan itu. Kemudian aku menunjuk ke arah sayur-sayur yang aku sukai sebagai isyarat “Aku mahu sayaur itu” dan diambilnyalah olehnya untuk ditaruhkan ke piring nasiku.

Etalase warung vegetarian, sudah ada bakwan di atasnya

Etalase warung vegetarian, sudah ada bakwan di atasnya

Warung ini selalu menawarkan harga 40 atau 50 NT untuk porsi sekali makan. Aku selalu memesan 50 NT untuk makan siang dan 40 NT untuk makan malam, sehingga untuk makan siang aku dapat mengambil 7 macam sayur untuk nasiku. Tetapi karena aku selalu minta 3 bakwan, maka aku hanya bisa mengambil 4 macam sayur lagi, jumlah totalnya menjadi 7. Budaya aneh yang belum kudapat sebelumnya.

Selesai sudah menu lengkapku hari ini, aku mengambil piring yang hampir penuh itu dan membayarnya, 50 NT, sekitar 19 ribu rupiah, cukup untuk dua bungkus nasi Padang di Jogjakarta. Setelah kuletakkan piring nasiku itu kemudian aku mengambil sup chamchaw di bagian depan warung untuk pelengkap makanku. Rasanya tawar sebagai kembang semangkok yang terkenal daerah Aceh.

Menuku hari ini beserta bakwan kesayangan

Menuku hari ini beserta bakwan kesayangan

Setelah aku menyantapnya, aku mengambil piring nasiku itu yang telah kosong betul dan meletakkannya di tempat cuci piring di bagian depan warung. Aku keluar warung itu dan kuambil sepedaku untuk pulang ke garasi tadi dan menuju Laboratorium tempat aku belajar.

Sampai jam 12 malam saya baru pulang ke asrama untuk tidur. Beginilah sebagian besar hari-hariku kuhabiskan di Kaohsiung ini. Sebuah perjalanan harian yang sangat sederhana tetapi tidak semua teman seprofesiku mahu melakukannya. Aku tahu mengapa.. Tapi aku tidak bisa ceritakan sekarang, karena aku mahu belajar dulu.🙂

About Usman Blangjruen

Dosen Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe
This entry was posted in Catatan Harian and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s