Puisi: Rindu

Sahut-menyahut dengkuran para calon doktor memecah kesunyian malam.
Mereka lelap, aku tak bisa tidur.

Pikiranku melayang terbang melintasi dinginnya kota Kaohsiung.
Ke sebuah desa kecil yang tak pernah sepi.

Tiada sedih di sana,
Karna ada senyumnya.

Blang Bidok, di atas punggungmu disematkan mutiara hidupku.
Aku rindu kau karena dirinya.

Hawa dinginmu kuharapkan untuk tidur lelapnya
Kesunyian malammu kuharapkan untuk mimpi indahnya.

Selamat malam istriku
Aku tak bisa tidur

Kaohsiung, 4 Januari 2014

About Usman Blangjruen

Dosen Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe
This entry was posted in Puisi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s