Menyambut Malam Bersama Large Magellanic Cloud

Malam kemarin kami meluncur lagi ke pantai Parangtritis. Tujuan kami kali ini bukan untuk mengamati hujan meteor lirid seperti malam sebelumnya, melainkan untuk mengamati Large Magellanic Cloud atau lebih dikenal dengan singkatan LMC.

Kami berangkat bertiga dari markas JAC jam 16:30 WIB dengan mobil salah satu anggota JAC. Dengan kecepatan mobil yang santai kami menuju ke pantai Parangtritis. Sambil jalan kami bercerita banyak hal termasuk curhat (curahan hati. red).😀 . Suasana di dalam mobil menjadi tambah nyaman ketika kami sepakat memutar lantunan lagu Mahir Zein. Hitung-hitung buat menghilangkan galau kronis.😀

Kami sampai di pantai sekitar jam 17:45 WIB, sudah masuk waktu magrib. Sehingga kami shalat dulu sebelum meluncur ke lokasi pengamatan. Kami shalat di sebuah mesjid kecil seputar pantai Depok. Walaupun terlambat lumayan juga kami bisa mendapatkan jamaah satu rakaat.

Setelah selesai shalat kami langsung menuju ke tempat pengamatan seperti biasa, yaitu landasan pacu terbang layang di pantai Depok Parangtritis, Yogyakarta. Sampai di sana kondisi langit masih belum begitu gelap sehingga hanya bintang-bintang yang terang yang kelihatan. Setelah kami menunggu sekitar tiga puluh menit baru bintang-bintang kecil terlihat dan lengan galaksi Bima Sakti pun menampakkan diri. Sekitar beberapa menit kemudian LMC pun sudah mulai nampak sekitar 30 derajat di atas ufuk Selatan.

Alat-alat berupa teleskop, binokuler, dan kamera DSLR (digital single-lens reflex) kami keluarkan untuk pengamatan dan dokumentasi. Kami benar-benar sudah siap beraksi membidik ke arah sasaran kami, yaitu LMC. Kalau kita lihat sepintas lalu LMC itu hanya berbentuk seperti awan saja. Ga taunya itu adalah sebuah galaksi yang berisi bintang-bintang.

Kami tidak begitu lama melakukan pengamatan. Sekitar jam 20:30 WIB kami sudah meninggalkan lokasi karena objek yang ingin kami amati sudah sukses dilakukan. Eh, hampir lupa, Tadi malam ketika kami sedang asyik mengamati LMC tiba-tiba ada dua satelit buatan yang lewat. Meteor pun dapat kami amati melewati di belahan langit Selatan.

(Photo berlatarkan LMC, Dari kiri ke kanan: Danang, Aku, dan Eko HAdi G)

Sedikit tentang LMC, Large Magellanic Cloud

Sesuai dengan namanya, cloud, yang berarti “awan” memang LMC ini terlihat seperti kumpulan awan. Mungkin kalau masyarakat awam tidak pernah membayangkan bahwa itu adalah sebuah kumpulan bintang-bintang atau galaksi.

LMC ini adalah sebuah galaksi yang bentuknya tidak teratur sehingga dia benar-benar terlihat seperti kumpulan awan. Galaksi ini termasuk satelit dari galaksi kita, yaitu Bima Sakti. Dia hanya bisa dilihat di belahan bumi bagian Selatan. Makin ke Utara maka posisinya makin mendekati ufuk Selatan sehingga tidak bisa teramati.

(Large Magellanic Cloud merupakan galaksi satelit yang paling besar. Sumber: http://en.wikipedia.org)

Galaksi satelit adalah sebuah galaksi yang mengorbit galaksi yang lebih besar daripadanya yang diakibatkan oleh gaya grafitasi. Dalam hal ini, LMC adalah sebuah galaksi satelit  yang mengorbit galaksi Bima Sakti (Milky Way), dimana bumi berada di dalamnya. Galaksi lain seperti Andromeda juga memiliki satelit yang terus mengorbitnya setiap waktu.

(Galaksi Andromeda dan satelitnya. Sumber: http://en.wikipedia.org)

Walaupun hanya sebagai satelit tetapi galaksi ini tergolong galaksi terbesar keempat setelah tiga galaksi lainnya, yaitu: Andromeda, Bima Sakti, dan Triangulum. Jaraknya terhadap galaksi kita sebesar 160000 tahun cahaya. Artinya jika kita bergerak dengan kecepatan cahaya maka kita baru sampai ke galaksi ini sekitar 160000 tahun. Tidak cukup umurnya ya?.🙂 . Lagi pula manusia sampai sekarang belum mampu menciptakan kendaraan yang mampu bergerak dengan kecepatan cahaya. Jadi tidak tahu kapan kita bisa ke sana.

Galaksi Bima Sakti memiliki beberapa satelit. Yang paling dekat dengan pusatnya adalah Canis Major Dwarf, kemudian disusul oleh Sagitarius Dwarf dan LMC. Sehingga LMC merupakan satelit terdekat ketiga terhadap pusat Bima Sakti.

(Satelit galaksi Bima Sakti. Sumber: http://en.wikipedia.org)

Pada gambar di atas terlihat bahwa satelit galaksi Bima Sakti yang paling jauh adalah Formax Dwarf. Tetapi sebenarnya baru-baru ini ada lagi ditemukan galaksi-galaksi satelit yang lainnya seperti Leo II. Lengkapnya mungkin bisa dilihat di http://en.wikipedia.org. Terakhir pada 2010 ditemukan lagi satelit galaksi Bima Sakti yang paling jauh, yaitu Pisces II.

Mungkin siapa tahu nanti kita di JAC bisa menemukan yang lebih jauh lagi, Insya Allah.🙂 . Asal giat dan rajin saya yakin bisa kok. kan tinggal ada alatnya saja kan?.

About Usman Blangjruen

Dosen Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe
This entry was posted in Ilmu Falak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s