Doa Ibu Membuka Pintu Langit

Menderita batin, inilah kondisiku pada saat awal kuliah di pascasarjana UGM. Cita-cita dari  SD dulu ingin kuliah ke luar negeri, maka kemampuan Bahasa Inggris-ku selalu aku asah setiap hari. Aku telah mampu dalam segi bahasa. Malah aku telah diterima di University of Adelaide, Australia, dengan tanpa syarat (Unconditional Acceptance). Tapi sayang, beasiswa DIKTI yang kuharapkan tidak aku dapatkan. Aku gagal dalam wawancara.

Beasiswa DIKTI adalah beasiswa terakhir yang aku coba. Sebelumnya sudah banyak juga  aku mencoba beasiswa lain, tetapi hasilnya nihil. Akhirnya pilihan kuliah ke dalam negeri terpaksa aku ambil.

Awalnya pimpinanku, Pudir I, menginginkan aku untuk kuliah di ITB. Tetapi aku tidak suka kehidupan di Bandung. Aku memohon agar aku kuliah ke UGM saja. Di Jogja aku sudah sangat cocok dengan budaya setempat. Permohonanku pun disetujui, lumayan melegakan walaupun masih sedih mengingat cita-citaku dulu. Keterpaksaan melandasi aku kuliah di dalam negeri. Walaupun pahit aku harus menjalaninya dan menikmatinya., dan bila perlu kesembunyikan kesedihanku selama dua tahun menjadi mahasiswa pasca sarjana UGM.

Di semester awal kuliah aku sangat tertekan sehingga aku mendadak menjadi perokok berat. Tetapi jadi perokoknya hanya berlangsung satu minggu, habis itu aku sadar. Kondisi diperparah lagi ketika nilai dari empat matakuliah yang kuambil hanya satu yang lulus, yang lain didominasi oleh nilai “D” dan “C”. Ampun.. Hancur aku.😦

Kondisiku semakin parah pada saat itu. Aku mulai tidak bisa tidur lagi di waktu malam, serasa aku ingin mati, dan jantungku berdebar-debar. Benar-benar seolah-olah aku akan mati satu detik lagi. Perasaan berlangsung sampai pagi tiba. Dan siangnya baru aku bisa tidur.

Tak tahan dengan kondisi ini akhirnya aku ke psikolog untuk mengkonsultasikan kondisiku. Ternyata aku terdeteksi mengidap Anxiety Disorder atau gangguan kecemasan. Hal ini diakibatkan oleh stress dan sakit hati yang berkepanjangan. Mulai saat itu aku harus berobat ke dokter.

Memang sebelum putus asa karena tidak jadi ke luar negeri sebelumnya aku sempat patah hati karena dikhianati oleh seorang perempuan yang aku anggap paling baik. Ternyata perasaan itu bersambung dengan kegagalan dalam mencapai cita-citaku. Jadi lumayan lama jiwaku dalam ketegangan.

Setelah tahu kondisiku, semenjak itu aku mulai sering menghubungi ibuku untuk memohon doanya. Aku menelponnya hampir tiap hari. Aku menceritakan semua bahwa aku sedang dalam kesulitan secara psikis. Dan kelihatannya dia mengerti kondisiku.

(Ibu, keramat hidupku)

Aku memohon kepada ibuku agar mendoakan aku supaya lancar dalam kuliah. Ibuku tidak pernah sekolah sehingga dia agak sulit mengucapkan istilah-istilah akademis. Akhirnya aku minta dia mendoakan aku dengan kata yang umum saja. Aku memintanya untuk mendoakan aku agar aku lulus kuliah tepat waktu.

Aku memohon kepadanya agar mendoakan aku setiap habis shalat lima waktu dengan menggunakan bahasa Aceh saja biar dia tidak kerepotan. Pintaku dilakukan oleh ibuku, dia mendoakan aku setiap habis shalat. Kakak perempuanku bilang bahwa dia mendengarkan namaku dengan sayub-sayub disebutkan oleh ibuku dalam doanya.

Mulai saat itu jiwaku terasa disuntik dengan semangat lagi. Satu persatu matakuliah aku selesaikan. Jiwaku terasa tenang. Mulai saat itu aku mulai bisa tersenyum lagi. Kematian yang seolah-olah menghapiriku sekarang hilang. Aku sekarang benar-benar sudah menjadi Usman yang dulu lagi.

Kabar baik itu aku sampaikan kepada ibuku, bahwa aku sekarang sudah memperoleh banyak kemajuan dalam kuliahku. Aku juga menceritakan bahwa kuliahku sebentar lagi akan selesai karena untuk semester ini  aku hanya mengambil tesis. Matakuliah yang harus kuambil sudah lulus semua. Suatu capaian yang sangat fantastis untuk orang stress kaya aku ini dan juga suatu pembuktian bagaimana dahsyatnya pengaruh doa seorang ibu.

Ibu adalah kekuatan bagiku, dia adalah penyembuh untuk semua sakitku, dan tempat aku menceritakan kesedihanku. Terimakasih Ibu. Doamu telah membuka pintu langit. Insya Allah aku selesai tepat waktu, Amin….

About Usman Blangjruen

Dosen Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe
This entry was posted in Catatan Harian. Bookmark the permalink.

10 Responses to Doa Ibu Membuka Pintu Langit

  1. darkblood says:

    amiin.. ,, smangat pak ^^ jangan seperti saya yg gagal dalam cita cita saya sendiri ..

  2. billy says:

    cerita yang sangat mengharukan…

  3. noviasri says:

    -senasib rupanya- (masuk ugm karna gak jadi keluar negeri)😀

  4. riyadh says:

    mantap broo….

  5. mameh2 says:

    Kisah yg sangat inspiratif…..
    Tq, Prof. Usman, sudah sharing,

  6. intan says:

    :’) mengharukan…….
    nice sharing mas….🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s