Sistem Kalender Islam, Materi Pengajian Ranup Lampuan Di Tainan

Kemarin saya dan beberapa teman Aceh lain mengadakan pengajian di Tainan. Sekaligus acara silaturahmi dan makan-makan. Pengajian dibuat dalam dua sesi. Sesi pertama bertemakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar yang diisi oleh Pak Tri dan sesi kedua adalah Sistem Penanggalan Hijriah yang disampaikan oleh saya sendiri.

Dalam membahas tentang Sistem Penanggalan Hijriah, saya mengawali dengan mennjelaskan tentang orbit bumi dan bulan, yang pada akhirnya berujung pada penjelasan tentang ijtimak atau konjungsi.

Saya menekankan pada penjelasan ijtimak ini karena ini merupakan titik balik pergantian dari hilal tua ke hilal muda. Hilal tua terbentuk sebelum ijtimak dan hilal muda terbentuk setelah ijtimak. Setelah menjelaskan apa itu ijtimak, maka penjelasan berlanjut ke beberapa kriteria awal bulan yang dipakai di Indonesia, baik Wujudul Hilal maupun Imkan Rukyat 2º. Untuk berikutnya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Dari sesi tanya jawab itu saya sadar ternyata teman-teman memiliki segudang pertanyaan terkait Ilmu Falak ini. Mulai dari awal bulan, sistem rukyat, sampai dengan angka-angka yang ada pada jadwal imsakiyah, Semua menghujaniku kemarin sore.

Sebagai contoh di sini saya kutip dua pertanyaan dari teman-teman dan sekaligus jawaban saya.

1. Pak, Waktu imsak itu sebenarnya untuk apa..? Bukankah waktu makan sahur itu sampai waktu Shubuh..?

Jawaban:

Perlu diketahui bahwa waktu imsak yang mashur sekarang adalah waktu Shubuh dikurang 10 menit. Sebenarnya nilai itu tidak tetap karena ada juga ulama Falak menetap 15 menit sebelum Shubuh.

Sebenarnya waktu imsak itu berangkat dari sebuah hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:

زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ثُمَّ قُمْنَا إلَى الصَّلَاةِ» ، وَكَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا خَمْسِينَ آيَةً

Artinya:

Zaid Bin Tsabit Berkata: Kami bersahur bersama Rasulullah SAW kemudian kami mendirikan shalat, dan ukuran waktu antara shahur dan shalat tadi adalah waktu yang dibutuhkan untuk membaca 50 ayat. (Sumber: Syarah Muhalli ‘Ala Minhaj)

Dari hadist tersebutlah diambil kesimpulan bahwa waktu imsak itu adalah sebelum masuk waktu shubuh dengan kadar waktu yang dibutuhkan untuk membaca 50 ayat Alqur’an. 50 ayat inilah yang kemudian diterjemah menjadi 10 menit atau 15 menit.

Tetapi karena ada hadist lain yang menyatakan bahwa waktu imsak adalah waktu shubuh, maka saya menyarankan kepada rekan-rekan di pengajain kemarin sebagai berikut:

  1. Jika waktu tidak kepepet maka sebaiknya berhentilah makan ketika waktu imsak datang, karena memang rasulullah tidak makan dan minum lagi kadar 50 ayat sebelum shubuh sebagaimana hadist di atas.
  2. Kalau telat terbangun shahur dan sudah kepepet maka teruskan makan sampai waktu Shubuh datang. Tetapi perlu diingat bahwa waktu shubuh yang di imsakiyah sudah ditambah 2 menit dari waktu sebenarnya, ini adalah sebagai pengaman (ikhtiyath). Jadi benar-benar berhentilah makan 2 menit sebelum waktu shubuh yang tertera di imsakiyah.

2. Pak. Kenapa sekarang terasa hari-hari berjalan cepat sekali…?

Jawaban saya:

Itu hanya efek psikologis. Mungkin karena terlalu sibuk sehingga tidak terasa waktu berjalan.

Memang bumi ada mengalami perlambatan rotasi akibat daya tarik bulan, tetapi ternyata secara alami rotasi bumi akan terkoreksi sendiri dengan aktifitas pergeseran lempengnya. Tentang ini lebih luas bisa dibaca di tulisan guru saya Bapak Thomas Djamaluddin (Ketua LAPAN Sekarang). Untuk membacanya silakan klik di sini.

Sebenarnya masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang lain, tetapi secara garis besar sudah terjawab dengan tulisan saya sebelumnya.

Advertisements
Posted in Ilmu Falak | Tagged , , | Leave a comment

Puisi: Taksadar

Mungkin saja dirimu berpikir
Mereka itu jenius
Namun tahukah kamu
Mereka hampir lupa tidur nyenyaknya

Mungkin saja dirimu mengira
Mereka itu gembira
Namun mengertikah kamu
Mereka hampir lupa nikmatmya rasa tersenyum

Mungkin saja dirimu menduga
Mereka itu bahagia
Namun sadarkah kamu
Mereka hampir lupa rasanya dicintai

Mungkin saja dirimu menganggap
Kamulah yang paling sengsara
Namun pahamkah kamu
Mereka putus asa karna tak bisa sepertimu

Mungkin saja dirimu mengeluh
Tuhan.. kenapa Engkau tidak sayang padaku
Namun  maklumkah kamu
Tuhan rindu cintamu seperti cinta-Nya kepadamu.

Kaohsiung, 5 Januari 2014

Posted in Puisi | Tagged | Leave a comment

Puisi: Rindu

Sahut-menyahut dengkuran para calon doktor memecah kesunyian malam.
Mereka lelap, aku tak bisa tidur.

Pikiranku melayang terbang melintasi dinginnya kota Kaohsiung.
Ke sebuah desa kecil yang tak pernah sepi.

Tiada sedih di sana,
Karna ada senyumnya.

Blang Bidok, di atas punggungmu disematkan mutiara hidupku.
Aku rindu kau karena dirinya.

Hawa dinginmu kuharapkan untuk tidur lelapnya
Kesunyian malammu kuharapkan untuk mimpi indahnya.

Selamat malam istriku
Aku tak bisa tidur

Kaohsiung, 4 Januari 2014

Posted in Puisi | Leave a comment

Tentang Arah Kiblat Di Taiwan

Saya baru dua minggu ini berada di Taiwan, tepatnya di Kota Kaohsiung. Kota ini terletak di pulau Taiwan sebelah selatan. Koordinat geografis kota ini adalah 120º 19′ 34″ BT dan 22º 38′ 49″ LU. Letak kota ini tepat di sebalah utara Indonesia bagian tengah. Maka waktunya pun sama dengan waktu Indonesia bagian tengah (WITA), yaitu UT+8.

Arah qiblat kota Kaohsiung sebesar 286,8º (Utara-Timur-Selatan-Barat). Artinya ketika kita shalat posisi badan menghadap ke barat tapi agak miring ke kanan sebesar 16,8º.

Beberapa teman masih belum menerima posisi arah qiblat ini, karena mereka melihat di peta bahwa letak Mekkah berada di bawah garis lintang Taiwan. Jelas itu, mengingat lintang Mekkah adalah 21º LU sedangkan Lintang Taiwan berada di atas 22º LU.  Maka posisi Mekkah akan terlihat di bawah Taiwan pada peta dunia. Karena argumen inilah teman-teman ketika shalat mengahadap ke barat dan condong ke kiri.

Kesalahan persepsi ini saya rasa wajar-wajar saja karena memang teman-teman kita itu bukan dari latarbelakang geografi. Mereka semua dari ilmu teknik mesin. Cuma saya yang mempunyai sedikit keahlian di ilmu falak sudah mencoba untuk menjelaskan, walaupun masih belum bisa diterima oleh mereka.

Mungkin melalui tulisan ini saya bisa memberikan pencerahan kepada teman-teman pembaca tentang pengetahuan arah kiblat. Agar tidak terjebak dengan pola pikir seperti itu.

Arah Kiblat

Yang dikatakan dengan arah kiblat adalah arah mata angin yang menuju ke Kakbah. Arah yang dimaksud di sini adalah arah dengan jarak terdekat ke Kakbah. Bukan sebaliknya , yaitu arah yang jauh.

Misalnya kalau kita berada di Jogjakarta maka arah Cilacap adalah ke barat, jadi bukan sebaliknya yaitu ke Timur. Walaupun jika kita naik peasawat dari Jogjakarta dan menuju ke Timur juga akan sampai ke Cilacap. Tapi itu tentu sangat jauh, sehingga itu bukan arah.

Sekarang kita kembali lagi ke masalah arah kiblat di Taiwan. Lintasan arah kiblat Taiwan akan terlihat melengkung ke atas jika kita melihat pada Google Earth dengan posisi Utara bola bumi kita tempatkan tepat di atas seperti pada gambar 1. Garis arah kiblat ini terlihat lengkung karena pengaruh pandangan menyamping terhadap sebuah garis pada permukaan bola. Sebenarnya garis putih itu adalah sebuah garis lurus yang menghubungkan antara Taiwan dan Kakbah dengan jarak terdekat (arah). Sehingga garis putih itu lah yang merupakan arah qiblat.

Kiblat-Taiwan(Gambar 1. Arah Kiblat Kota Kaohsiung, Taiwan. Pandangan menyamping. Sumber: Google Earth)

Garis putih arah kiblat itu akan terlihat lurus jika kita melihat tepat dari atas (tidak menyamping) dengan cara memiringkan bola bumi seperti gambar 2 di bawah. Sedangkan garis lintang akan terllihat melengkung. Garis putih itulah yang merupakan arah kiblat untuk kota Kaohsiung Taiwan. Sehingga kita sekarang memahami kenapa arah kiblat kaohsiung harus miring ke kanan sebesar 16,8º dari arah barat. Bukan malah miring ke kiri yang justru akan mengarah ke Somalia.

Arah-kiblat-Taiwan2(gambar 2. Arah Kiblat kota Kaohsiung Taiwan. Pandangan Atas. Sumber: Google Earth)

Menurut pengamatan saya. Kekeliruan teman-teman di Taiwan tentang arah kiblat terjadi karena berpatokan pada garis lintang, Karena lintang Mekkah lebih kecil dari lintang Taiwan dan berada di sebalah barat Taiwan, maka kita harus miring ke kiri sedikit dari titik barat agar supaya tepat ke arah kiblat.

Tentu ini adalah pemahaman yang keliru. Pemahaman seperti ini hanya bisa diterapkan untuk segitiga datar. Sementara bumi berbentuk bola, maka prinsip segitiga bola (spherical trigonometry) lah yang harus diterapkan. Cuma sayang, konsep segitiga bola ini tidak begitu populer di dunia pendidikan. Hanya penggiat-penggiat Astronomi atau Ilmu Falak yang harus mempelajari konsep segitiga ini.

Peta yang kita jumpai sehari-hari merupakan hasil proyeksi permukaan bola bumi ke bidang datar. Untuk jarak hanya akurat di sepanjang garis khatulistiwa. Sedangkan di atas dan di bawah garis khatulistiwa jaraknya sudah melenceng, karena ukuran lingkaran bola bumi di atas dan di bawah garis khatulistiwa mulai mengecil. Sedangkan di peta dua dimensi jaraknya dibuat sama.

Jadi tidak boleh menentukan arah sesuatu tempat dengan cara mengikuti garis lintang dan bujur di peta datar. Karena jika mengikuti kesejajaran alur garis lintang dan bujur di peta maka sesungguhnya akan melengkung pada kondisi sebenarnya di lapangan. Sehingga justru akan semakin jauh, sehingga itu bukan arah.

Peta arah kiblat untuk seluruh dunia dapat dilihat pada gambar di bawah. Angka merah di tepi atas dan bawah peta menyatakan nilai azimut arah kiblat. Jadi untuk menentukan arah kiblat sebuah daerah, tinggal lihat saja arsiran warna apa yang menutupi daerah tersebut. Setelah itu lihat ke pinggir atas atau bawah untuk warna yang bersangkutan berhenti di nilai berapa, maka nilai itu adalah azimut arah kiblat untuk daerah yang bersangkutan.

Peta-Kiblat-Acurate-Time(Gambar 3. Peta arah kiblat untuk seluruh dunia. Sumber: Accurate Times)

Di sisi lain, saya belum menanyakan ke Imam besar Masjid Kaohsiung perihal pengukuran arah kiblat pada awal pembangunan mesjid tersebut dulunya. Hal yang sangat penting adalah metode yang digunakan untuk mengukur arah kiblatnya. Karena saya coba cek dengan bantuan Google Earth dan Qibla Locator arahnya juga tidak tepat ke arah kiblat. Mesjid tersebut melenceng ke kiri sangat jauh.

Kiblat-masjid-Kaohsiung-Tai(gambar 4. Pelencengan arah kiblat Mesjid Kaohsiung Taiwan. Garis putih adalah arah kiblat. Sumber: Google Earth)

Kiblat-masjid-Kaohsiung-Tai(gambar 5. Pelencengan arah kiblat Mesjid Kaohsiung Taiwan. Garis merah adalah arah kiblat. Sumber: www.qiblalocator.com)

Dari hasil ulasan di atas terbukti sudah bahwa Ilmu Falak yang merupakan warisan Islam sudah sangat jauh ditinggalkan oleh umat ini. Praktisi Ilmu Falak sangat sulit dijumpai walaupun di negara maju sekalipun. Padahal sebagian besar ibadah dalam Islam sangat tergantung pada waktu dan arah, dan semuanya itu bisa diketahui hanya dengan menguasai Ilmu Falak.

MENGETAHUI ARAH KIBLAT ITU TIDAK SULIT

Qibla Locator

Sebenarnya kekeliruan arah kiblat ini tidak perlu terjadi di era teknologi informasi seperti ini, di mana arah kiblat sudah sangat mudah untuk diketahui dengan hanya mengakses perangkat lunak gratis di internet. Seperti Qibla Locator misalnya, dengan perangkat lunak ini kita bisa langsung mengetahui arah kiblat dengan cara memasukkan nama kota yang ingin diketahui arah qiblatnya.

Arah-Kiblat-Taiwan3(Gambar 6. Arah Kiblat Kaohsiung Taiwan dengan menggunakan Qibla Locator. Terlihat arah kiblat miring ke kanan dari titik barat. Sumber: www.qiblalocator.com)

Accurate Time

Perangkat lunak accurate time juga sangat populer di kalangan penggiat Ilmu Falak, dan bisa didownload gratis di www.icoproject.org. Setelah lokasinya diset menjadi kota Kaohsiung maka kita langsung dapat mengetahui arah kiblatnya, dan juga waktu shalat.

Arah-kiblat-Taiwan5(Gambar 7. Arah kiblat Kaohsiung Taiwan dengan Accurate Times. dari titik barat miring ke kanan)

 Google Earth

Google earth juga merupakan perangkat lunak yang sangat mumpuni untuk mengetahui arah kiblat. Caranya sangat mudah, dengan hanya mengunakan menu “ruler”. Klik menu Tools dan pilih ruler. Setelah itu klik saja di atas gedung tempat anda tinggal sebagai titik pertama dan titik keduanya adalah di atas Kakbah, maka anda akan melihat arah kiblat relatif terhadap gedung di mana anda tinggal.

Sebagai contoh di bawah ini saya cantumkan arah kiblat relatif terhadap gedung asrama National Kaohsiung University of Applied Sciences, Taiwan. Tempat di mana saya tinggal sekarang.

Arah-Kiblat-Taiwan4(Gambar 8. Arah Kiblat relatif terhadap gedung Asrama National Kaohsiung University of Applied Sciences, Taiwan. Sumber: Google Earth)

Mengetahui arah kiblat relatif terhadap gedung sangat membantu dalam menentukan kemana arah kiblat dalam gedung tersebut, sehingga kita bisa mengatur arah sajadah relatif terhadap ubin lantai gedung, seperti yang saya lakukan pada gambar di bawah ini.

Arah-kiblat-Taiwan6(gambar 9. Peletakan sajadah mengarah ke arah kiblat relatif terhadap gedung, Arah gedung mengarah ke titik barat)

Di samping itu masih banyak perangkat lunak yang lain yang dapat kita gunakan untuk menentukan arah kiblat, dan juga bisa langsung di install ke hp sehingga penggunaannya pun lebih praktis lagi.

Semoga bermanfaat, Salam astronomi buat semuanya……. 🙂

Posted in Ilmu Falak | 9 Comments

Tidak Wajib Shalat Jum’at Jika Bertepatan Dengan Hari Raya?

Beberapa hari yang lalu ada pertanyaan dari teman-teman se kantor tentang hukum shalat jum’at jika bertepatan dengan hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Kejadian semacam ini akan terjadi pada hari raya Idul Adha kali ini yang kebetulan bertepatan dengan hari Jum’at.

Pertanyaan itu berangkat dari adanya seorang penceramah di masjid Albayan Politeknik Negeri Lhokseumawe yang menentang keras pendapat yang menyatakan bahwa tidak wajib shalat Jum’at jika bertepatan dengan dua hari raya, yaitu Idul fitri atau Idul Adha.

Walaupun secara garis besar sudah saya jawab tentang masalah itu namun saya tetap mencoba menelusuri beberapa kitab untuk memperoleh jawaban yang akurat dan meyakinkan tentang itu.

Akhirnya jawaban saya temukan dalam kitab Syarah Muhazzab, sebuah kitab yang ditulis oleh Imam Nawawi. Imam Nawawi menyimpulkan beberapa poin penting tentang hukum Shalat Jum’at yang bertepatan dengan dua hari raya tersebut.

Berikut kutipan dari kitab tersebut tentang shalat Jum’at jika bertepatan dengan dua hari raya. Kutipan telah saya coba terjemahkan, yaitu:

 قد ذكرنا ان مذهبنا وجوب الجمعة علي اهل البلد وسقوطها عن عن اهل القرى وبه قال عثمان ابن عفان وعمر بن عبد العزيز وجمهور العلماء وقال عطاء بن ابي رباح إذا صلوا العيد لم تجب بعده في هذا اليوم صلاة الجمعة ولا الظهر ولا غيرهما الا العصر لا علي أهل القرى ولا أهل البلد قال ابن المنذر وروينا نحوه عن علي بن أبى طالب وابن الزبير رضي الله عنهم

Terjemahannya:

Telah kami sebutkan bahwa mazhab kami tetap mengwajibkan shalat jum’at untuk orang-orang kota di sekitar masjid (ahlul balad) dan tidak wajib untuk orang-orang desa (ahlul qura) yang tinggal jauh dari masjid. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Usman Bin Affan, Umar Bin Abdul Aziz, dan mayoritas ulama.

Dan berkata ‘Ata Bin Abi Rabbah:” Jika mereka telah melakukan shalat hari raya maka pada hari itu tidak wajib bagi mereka untuk melakukan shalat jum’at, shalat zhuhur, dan lainnya kecuali shalat Asar. Shalat jum’at tersebut tidak wajib untuk ahlul qura dan tidak wajib juga untuk ahlul balad. Pendepat demikian sesuai dengan Ibnu Munzir, Ali Bin Abi Thalib, dan Ibnu Zubir.

وقال أحمد تسقط الجمعة عن أهل القرى وأهل البلد ولكن يجب الظهر

Terjemahan

Berkata Imam Ahmad bahwa tidak wajib shalat jum’at untuk ahlul qura maupun ahlul balad, akan tetapi wajib shalat zhuhur.

وقال أبو حنيفة لا تسقط الجمعة عن أهل البلد ولا أهل القرى

Terjemahan

Berkata Imam Abu Hanifah:” Tetap wajib shalat jum’at baik untuk ahlul balad maupun ahlul qura.

Dari kutipan di atas dapat kita simpulkan bahwa hukum shalat jum’at jika bertepatan dengan dua hari raya adalah sebagai berikut:

  1. Wajib untuk orang-orang kota di sekitar masjid (ahlul balad) dan tidak wajib untuk orang-orang desa (ahlul qura) yang tinggal jauh dari masjid. (Usman Bin Affan, Umar Bin Abdul Aziz, dan mayoritas ulama).
  2. Tidak wajib shalat jum’at maupun zhuhur dan lainnya pada hari itu, kecuali shalat asar. (‘Ata Bin Abi Rabbah,Ibnu Munzir, Ali Bin Abi Thalib, dan Ibnu Zubir)
  3. Tidak wajib shalat jum’at untuk ahlul qura maupun ahlul balad, akan tetapi wajib shalat zhuhur. (Imam Ahmad)
  4. Tetap wajib shalat jum’at baik untuk ahlul balad maupun ahlul qura. (Imam Abu Hanifah)

Ahlul qura dalam kutipan di atas adalah orang-orang desa yang pada hari-hari biasa diwajibkan shalat jum’at karena suara azan terdengar ke kampung mereka, untuk ahlul qura ini memang sangat sulit jika tetap diwajibkan shalat jum’at setelah mereka melakukan shalat hari raya, karena rumah mereka jauh dari masjid. Sedangkan ahlul balad adalah orang-orang dalam kota di sekitar masjid yang diadakan shalat jum’at, sehingga mereka tidak sulit jika tetap diwajibkan shalat jum’at setelah shalat ‘ied, karena rumah mereka dekat dengan masjid.

Jadi ada empat jenis pendapat mengenai shalat jum’at yang bertepatan dengan dua hari raya. Sehingga langkah yang bijak adalah tetap menghargai orang-orang yang mengikuti salah satu dari empat pendapat di atas. Tidak perlu kecam-mengecam karena ulama juga berbeda pendapat tentang hukumnya.

Dan bagi pengurus masjid memang harus tetap mengadakan shalat jum’at demi untuk melayani jamaah-jamaah yang tetap ingin melakukan shalat jum’at. wallahu a’lam.

Rujukan: Imam Nawawi, “Majmu’ Syarah Muhazzab”, Babus Shalati Jum’ah, Maktabah Shamilah.

Posted in Agama Islam | 1 Comment

Membuat Imsakiyah Ramadhan Dengan Microsoft Excel

Selama ini banyak orang beranggapan bahwa membuat imsakiyah merupakan satu hal sangat sulit. Tetapi dengan kemajuan teknologi komputasi, pembuatan imsakiyah bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari lima menit.

Media yang sering digunakan untuk komputasi adalah perangkat lunak microsoft excel, sebuah perangkat lunak yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Semua algoritma untuk perhitungan imsakiyah bisa diprogramkan ke perangkat lunak ini.

Imsakiyah Ramadhan sebenarnya hanya berisikan awal waktu shalat dan keterangan awal bulan Ramadhan dan Syawwal. Namun yang paling menarik dalam satu lembaran imsakiyah itu adalah jadwal waktu imsak dan magrib, karena itu merupakan awal mulainya berpuasa dan berbuka untuk setiap harinya.

Algoritma yang sering digunakan untuk perhitungan awal waktu shalat di Aceh adalah algoritma Astronomical Almanac, sedangkan untuk menghitung ijtimak dan  ketinggian hilal biasanya menggunakan algoritma Jean Meuss.

Berikut adalah langkah-langkah penyusunan imsakiyah:

1. Ketahui koordinat geografis tempat pengamatan hilal

Untuk propinsi Aceh tempat pengamatan hilal adalah observatorium hilal yang ada di tepi pantai Lhoknga Aceh Besar. Koordinat Geografisnya adalah 95º 14’ 32.2” BT, 5º 27’ 59” LU,  dengan ketinggian 15 meter di atas permukaan air laut. Sedangkan untuk daerah lain tergantung di mana tempat pengamatan yang dijadikan sebagai acuan kenampakan hilal untuk tempat yang bersangkutan.

2. Ketahui koordinat geografis tempat imsakiyah digunakan

Koordinat tempat ini digunakan sebagai acuan untuk menghitung awal waktu shalat yang ada di dalam imsakiyah.  Misalnya untuk Lhokseumawe dan sekitarnya, BHR MPU Aceh Utara sepakat mengambil koordinat tempat 97º BT, 5º LU dan untuk Lhoksukon 97º 15′ BT, 5º LU.

3. Mengitung kapan terjadinya Ijtimak Awal bulan Ramadhan dan Syawwal

Ijtimak/konjungsi merupakan titik awal terbentuknya bulan baru yang berupa bulan sabit muda (hilal). Hilal yang merupakan tanda dimulainya awal bulan baru terlihat sesudah ijtimak ini. Untuk menghitung ijtimak silakan download dulu programnya di sini.

 (Worksheet Excel untuk penentuan waktu Ijtimak)

Untuk penentuan ijtimak awal bulan ramadhan 1433 H masukkan angka 9 pada kolom bulan dan masukkan 1433 pada kolom tahun. Dari program itu dihasilkan bahwa ijtimak awal bulan Ramadhan 1433 H terjadi pada hari Kamis 19 Juli 2012 pukul 11:24:02 WIB

Untuk menentukan ijtimak awal bulan syawwal tinggal menggantikan angka 9 dengan 10 dalam program di atas. Sehingga didapat bahwa Ijtimak awal Syawwal 1433 H terjadi pada hari Jum’at  17 Agustus 2012 pukul 22:54:29 WIB.

4. Menghitung waktu terbenam matahari (ghurubsetelah ijtimak di tempat pengamatan hilal 

Hilal untuk penentuan awal bulan hijriah adalah hilal yang muncul ketika matahari terbenam setelah ijtimak.

Dari hitungan di atas terlihat bahwa ijtimak awal Ramadhan terjadi pada hari Kamis 19 Juli 2012 pukul 11:24:02 WIB. Maka waktu ghurub setelah peristiwa ijtimak adalah ghurub pada sore harinya. Untuk menghitung waktu ghurub silakan download dulu programnya di sini.

 (Menghitung waktu ghurub ditempat pengamatan hilal)

Pada program di atas, kita hanya perlu memasukkan tanggal kapan ghurub yang ingin diketahui, koordinat tempat pengamatan hilal Observatorium Hilal Lhoknga, dan ketinggian tempat pengamatan. Hasil dari hitungan program di atas terlihat bahwa waktu ghurub setelah ijtimak untuk awal Ramadhan terjadi pada pukul 18:57:50 WIB tanggal 19 Juli 2012.

Untuk bulan Syawwal, waktu ijtimak terjadi pada pukul 22:54:29 WIB tanggal 17 Agustus 2012. Karena ijtimaknya terjadi malam hari atau setelah magrib maka waktu ghurub yang digunakan untuk pengamatan hilal adalah waktu ghurub keesokan harinya yaitu tanggal 18 Agustus 2012. Dengan memasukkan tanggal itu ke program di atas maka didapatkan waktu ghurub untuk awal Syawwal pada pukul 18:51:48 WIB tanggal 18 Agustus 2012.

Untuk sementara kita sudah dapat menyimpulkan kapan kita harus melakukan rukyat hilal untuk penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawwal 1433 H di Observatorium Hilal Lhoknga Aceh Besar.

Rukyat hilal awal Ramadhan 1433 H dilakukan pada hari Kamis 19 Juli 2012 mulai pukul 18:57:50 WIB, Sedangkan rukyat hilal awal Syawwal dilakukan pada hari Sabtu 18 Agustus 2012 mulai pukul 18:51:48 WIB.

Ingat. Ini adalah rukyat yang dilakukan di Observatorium Hilal Lhoknga Aceh Besar. Sedangkan untuk pengamatan hilal di tempat lain tentu harus berdasarkan waktu terbenam matahari di tempat yang bersangkutan. Cuma untuk wilayah Aceh, acuan hisab awal bulan adalah Observatorium Hilal Lhoknga.

5. Ketinggian hilal pada hari rukyat

Ketinggian hilal pada hari rukyat sangat diperlukan karena itu merupakan parameter dalam penentuan awal bulan. Dalam sistem hisab yang dipakai oleh Pemerintah Republik Indonesia, syarat ketinggian hilal minimal yang memungkinkan untuk dirukyat adalah 2º. Pengakuan kenampakan hilal dengan ketinggian lebih kecil dari 2º akan ditolak dalam sidang istbat.

Untuk menghitung ketinggian hilal pada hari rukyat download dulu programnya di sini. 

 (Program hisab posisi hilal awal bulan)

 Dalam program di atas, data-data yang harus dimasukkan dalam kolom kuning adalah:

  1. Nomor bulan Hijriah yang ingin dihitung awak bulannya, 9 untuk awal Ramadhan dan 10 untuk awal Syawwal.
  2. Lintang dan bujur tempat pengamatan. Untuk wilayah Aceh maka kita masukkan koordinat tempat Observatorium Hilal Lhoknga yaitu 95º 14’ 32.2” BT, 5º 27’ 59” LU.
  3. Zona Waktu. Untuk WIB=7, WITA=8, dan WIT=9. Aceh menggunakan WIB maka masukkan 7.
  4. Ijtimak, Isikan dengan tanggal dan jam waktu ijtimak terjadi. Untuk awal bulan Ramadhan maka isikan dengan tanggal 19 Juli 2012 pukul 11:24:02 WIB. Untuk awal Syawwal maka isikan dengan 17 Agustus 2012 pukul 22:54:29 WIB
  5. Ketinggian tempat, isikan dengan nilai ketinggian tempat pengamatan di atas permukaan air laut. Untuk Observatorium Hilal Lhoknga adalah 15 meter.
  6. Temperatur. Isikan dengan temperatur tempat pada saat rukyat, namun untuk keperluan hisab maka isi saja dengan temperatur standar 10 Cº
  7. Tekanan. Isikan dengan tekanan udara di tempat rukyat. Untuk keperluan hisab biasanya dipilih tekanan standar yaitu 1010 millibar.
  8. Ghurub. Masukkan waktu ghurub sebagaimana yang telah didapatkan pada langkah 4 di atas. Untuk awal Ramadhan maka isikan dengan tanggal 19 Juli 2012 pukul 18:57:50 WIB, sedangkan untuk awal Syawwal isikan dengan 18 Agustus 2012 pukul 18:51:48 WIB.

Setelah memasukkan semua data maka ketinggian hilal akan langsung didapatkan. Ketinggian hilal yang digunakan untuk penentuan awal bulan adalah ketinggian hilal mar’iy. Untuk awal bulan Ramadhan ketinggian hilal pada hari rukyah didapat 0º 42’ 37” di atas ufuk mar’iy. Karena ketinggian hilal lebih kecil dari 2º maka 1 Ramadhan 1433 H jatuh satu hari setelah hari rukyat, yaitu hari Sabtu 21 Juli 2012.

Untuk Awal bulan Syawwal, ketinggian hilal didapat  5º 18’ 59.5” di atas ufuk mar’iy. Terlihat ketinggian hilal mar’iy sudah jauh lebih besar dari  2º sehingga 1 Syawwal 1433 H akan jatuh keesokan harinya, yaitu Hari Minggu 19 Agustus 2012.

6. Membuat imsakiyah

Dari langkah 1 sampai 5 di atas kita sudah dapat menentukan bahwa:

1 Ramadhan 1433 H = Sabtu 21 Juli 2012

1 Syawwal 1433 H = Minggu 19 Agustus 2012

Sehingga untuk tahun ini kita berpuasa mulai tanggal 21 Juli sampai dengan 18 Agustus 2012, hanya 29 hari. 🙂 . Sehingga imsakiyah juga  kita buat untuk 29 hari tersebut.

Seperti yang telah saya singgung di atas bahwa imsakiyah sebenarnya hanya berisikan awal waktu shalat. Untuk menghitung awal waktu shalat silakan download dulu programnya di sini.

 (Program menghitung awal waktu shalat)

Dalam program di atas kita hanya perlu memasukkan koordinat geografis daerah di mana imsakiyah ini akan digunakan. Misalnya untuk Lhokseumawe dan sekitarnya maka kita gunakan 97º BT, 5º LU. Selain itu masukkan juga tanggal mulainya 1 Ramadhan, maka jadwal shalat akan dihitung sampai 32 hari berikutnya. Karena puasa hanya berlangsung 29 hari, maka pilih waktu shalat dari tanggal 21 Juli sampai 18 Agustus 2012. Tinggal kopi paste aja ke lembaran imsakiyah yang ingin anda buat.

Algoritma yang digunakan dalam program di atas adalah algoritma yang dipakai oleh ulama-ulama hisab di Aceh, Seperti Waled Mustafa M. Isa Pulo, Waled M. Ali Yusuf Di Blang Asan, Tgk Ruslan Sulaiman Sumbok, Tgk Ismail Paya Meudru, dan beberapa ulama lain di daerah Pidie Jaya. Sehingga hasilnya akan sesuai dengan imsakiyah yang mereka buat. Walaupun ada selisih sedikit itu merupakan masalah keakuratan alat hitung yang digunakan.

Contoh lembaran imsakiyah dapat di-download di sini. Tinggal isi dengan hasil hisab anda.

Semoga bermamfaat

Salam Astronomi,
Usman Blangjruen
Himpunan Astronom Amatir Aceh (HA3)
Posted in Ilmu Falak | Tagged , | 10 Comments

Perbaiki Arah Qiblat Ketika matahari Tepat Di Atas Ka’bah

Disamping gerakan matahari yang terbit dari timur dan terbenam di sebelah barat, ternyata matahari juga bergeser dalam arah utara-selatan. Bergeser mulai dari garis khatulistiwa, ke utara, kembali lagi ke khatulistiwa, melanjutkan ke selatan, dan kembali lagi ke garis khatulistiwa. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu siklus itu adalah 1 tahun, yaitu waktu yang dibutuhkan oleh bumi untuk mengitari matahari satu putaran penuh.

Pergeseran matahari dalam arah utara-selatan diakibatkan oleh kemiringan sumbu rotasi bumi. Sudut kemiringannya sebesar 23.5º. Ketika bumi mengelilingi matahari maka sudut kemiringan ini akan mengakibatkan matahari terlihat bergeser ke utara dan selatan dengan jarak maksimum 23.5º dari garis khatulistiwa.

Matahari bergeser sebesar 1/2 piringannya setiap hari. Pada tanggal 20-21 Maret matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa dan selanjutnya bergeser ke utara sampai mencapai jarak maksimum 23.5º pada tanggal 20-21 Juni. Ketika sudah mencapai titik maksimum di utara maka matahari akan berbalik lagi ke arah garis khatulistiwa sehingga sampai lagi di atas garis khatulistiwa pada tanggal 22-23 September. Kemudian matahari akan melanjutkan lagi perjalanannya menuju ke arah selatan sampai mencapai jarak maksimum 23.5º pada tanggal 21-22 Desember. Kemudian berbalik lagi ke garis khatulistiwa pada tanggal 20-21 Maret. Itulah perjalanan semu tahunan matahari, dan siklus itu berlangsung terus setiap tahun.

(Kemiringan sumbu rotasi bumi mengakibatkan matahari terlihat bergeser ke utara dan selatan garis khatulistiwa ketika bumi mengitari matahari. Sumber: earthgauge.net)

Jarak matahari terhadap garis khatulistiwa diukur dengan satuan derajat (º). Tanda “+” (plus) menandakan matahari sedang berada di utara khatulistiwa sedangkan tanda “-” (minus) menandakan matahari sedang berada di selatan garis khatulistiwa. Jarak matahari dari garis khatulistiwa dalam istilah astronomi disebut dengan deklinasi (declination). Deklinasi bernilai nol ketika matahari berada di atas garis khatulistiwa, yaitu pada tanggal 20-21 Maret dan 22-23 September.

Sistem pengukuran deklinasi matahari sama dengan sistem pengukuran lintang sebuah tempat, yaitu nilai jarak dalam satuan derajat terhadap garis khatulistiwa. Oleh karena itu, semua daerah yang berada dalam lintang 23.5º LU sampai 23.5º LS akan dilewati oleh matahari 2 kali dalam setahun. Sekali ketika matahari sedang bergeser menjauhi garis khatulistiwa dan sekali lagi ketika matahari kembali ke garis khatulistiwa. Daerah yang mempunyai lintang lebih besar dari 23.5º tidak pernah dilewati oleh matahari.

Untuk mengetahui kapan matahari melintasi sebuah daerah, yang pertama kita harus mengetahui dulu nilai lintang tempat daerah tersebut. Misalnya untuk kota lhokseumawe, nilai lintang tempat untuk kota ini adalah 5° 11′ LU, artinya letak kota lhokseumawe 5° 11′ sebelah utara garis khatulistiwa. Langkah selanjutnya adalah mencari kapan deklinasi matahari bernilai + 5° 11′. Nilai deklinasi matahari ini bisa diperoleh dengan menggunakan tabel deklinasi. Dari tabel didapat bahwa nilai deklinasi yang mendekati nilai lintang tempat kota lhokseumawe adalah pada tanggal 3 April dan 10 September. Sehingga matahari akan terlihat melintasi kota lhokseumawe pada tanggal 3 April dan 10 September tersebut.

Ada fenomena penting ketika matahari sedang melewati sebuah daerah, yaitu titik kulminasi/istiwak matahari akan berada tepat di atas kepala (zenit) pengamat yang sedang berada di daerah tersebut, sehingga pada saat itu pengamat tidak memiliki bayangan. Untuk kasus Lhokseumawe di atas, maka pada tanggal  3 April dan 10 September matahari akan tepat berada di atas kepala ketika kulminasi/istiwak terjadi. Dalam ilmu falak, kulminasi/istiwak tepat di atas kepala dikenal dengan istilah istiwak a’dham.

Kulminasi/istiwak adalah kejadian dimana matahari mencapai titik tertingginya di langit, yaitu ketika dia berada pada perbatasan belahan langit timur dan barat (meridian). Dalam penentuan waktu shalat, kulminasi/istiwak merupakan awal waktu shalat Zuhur.

Memperbaiki Arah Qiblat Ketika Istiwak A’dham Di Atas Ka’ba

Ka’bah sebagai kiblat umat Islam mempunyai lintang tempat 21o 25′ LU. Deklinasi matahari yang bernilai + 21o 25’ terjadi pada tanggal 28 Mei dan 16 Juli. Sehingga pada tanggal tersebut matahari akan melintasi tepat di atas Ka’bah. Untuk tanggal 28 Mei matahari tepat berada di atas ka’bah pada pukul 16:18 WIB sedangkan untuk tanggal 16 Juli kejadian yang sama terjadi pada pukul 16:27 WIB.

(Cara menentukan arah kiblat ketika matahari tepat berada di atas Ka’bah. Sumber: bersamadakwah.com)

(Bayangan benda tegak mengarah ke arah Ka’bah ketika matahari tepat berada di atas Ka’bah. Sumber: rukyatulhilal.org)

Ketika matahari tepat berada di atas Ka’bah maka seluruh bayangan benda tegak akan mengarah ke Ka’bah, Sehingga arah bayangan itu merupakan arah kiblat.

Caranya sangat mudah dengan hanya menggunakan bandul atau tiang tegak pada tanggal dan jam di mana matahari berada di atas Ka’bah. Maka bayangan yang dihasilkan adalah tepat mengarah ke Ka’bah atau kiblat

Demikian semoga bermamfaat

 
Posted in Ilmu Falak | Tagged , , , , | 5 Comments