Pengalaman Pertama Mati Lampu di Taiwan

Hari ini (Jumat 6/6/2014) merupakan hari pertama bagiku merasakan mati lampu di Taiwan. Dulu waktu Degree Bridging ada juga tetapi hanya ngedip saja. Setelah itu tidak pernah mati-mati lagi.

Hari Jumat kami memiliki kelas seminar yang wajib kami ikuti selama empat semester sehingga begitu selesai salam Shalat Jumat aku lansung bergegas pulang dengan sepeda kesayanganku, Si Hitam.

Lima belas menit kemudian aku sudah berada di ruang seminar. Namun belum lama aku duduk di situ tiba-tiba lampunya mati. Ruangan menjadi gelap, panas, dan ribut. Memang seminar belum dimulai sehingga tidak semua mahasiswa telah hadir di ruangan.

Tidak berapa lama kemudian Profesor datang untuk memberitahu bahwa seminar dibatalkan karena listrik tidak akan hidup dalam waktu dekat. Setelah itu kami berhamburan keluar, kembali ke aktifitas masing-masing. Setelah di luar ternyata malah tambah bingung karena semua pada mati, mulai dari internet, AC, sampai dispenser air minum.

Bayangkan, di Taiwan sekarang sedang musim panas. Sebentar saja AC mati maka tinggal di ruangan bagaikan masuk ke liang oven pemanggang roti. Di asrama juga demikian, minimal harus menghidupkan kipas. Kalau tidak maka jangan coba-coba tidur, pasti akan mandi keringat.

Panas di Taiwan aku rasa sangat berbeda dengan di kampung halamanku, Aceh. Udara di Taiwan sangatlah lembab sehingga sangat gerah dan kita akan cepat berkeringat. Maklum lah, kan Negara Taiwan adalah sebuah pulau yang dilingkari oleh laut yang luas, sehingga udaranya kaya akan kandungan air.

Mahasiswa-mahasiswa yang biasanya bersarang di laboratorium semua berhamburan keluar. Mereka, termasuk kami, ngobrol di depan pintu laboratorium kami masing-masing. Kami menunggu listrik dihidupkan kembali karena sudah dijanjikan jam 16 akan dihidupkan kembali.

Teman-teman sedang menunggu listrik menyala, Lokaso di depan Lab CAE.

Teman-teman sedang menunggu listrik menyala, Lokasi di depan Lab CAE.

Walaupun jarang mati listrik, aku heran juga ternyata pemadaman listrik di Taiwan juga tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu. Buktinya panitia seminar tidak mengetahuinya. Kalau mereka tahu pasti seminar akan dibatalkan sejak awal, jadi aku tidak perlu ngebut pulang setelah Shalat Jumat. Ini artinya mereka tidak tahu-menahu tentang pemadaman itu.

Alhamdulillah, pada jam 15:45 listrik sudah hidup lagi, lebih cepat 15 menit dari yang dijanjikan. Teman-teman yang tadinya berkeliaran di luar lab akhir satu persatu masuk lagi.

Gara-gara mati lampu ini, Aku tertarik untuk mengetahui sedikit tentang listrik di Taiwan. Selama ini saya hanya mengetahui kalau listrik di Taiwan memiliki catudaya 110 Volt, beda dengan di Indonesia yang 220 Volt.

Namun pengalaman saya selama tinggal di Taiwan, alat elektronik yang saya beli di Taiwan tetap bisa saya pakai di Indonesia. Begitu juga sebaliknya, laptop yang saya beli di Indonesia juga aman-aman saja ketika saya gunakan di Taiwan. Jadi heran apa sebenarnya pengaruh perbedaan catudaya terhadap komponen elektronik.

Tentang sumber enegri listrik di Taiwan, dari hasil googling, saya mendapatkan informasi ternyata listrik di Taiwan tidak dimonopoli oleh satu perusahaan saja. Berbeda dengan di negara kita yang hanya dimonopoli oleh PLN.

Setidaknya ada sembilan perusahaan yang memproduksi energi listrik untuk Taiwan, yaitu: [sumber]

Padahal negara Taiwan tidaklah besar. Hanya sedikit lebih besar dari provinsi Aceh. Penduduknya juga tidak terlalu banyak sehingga untuk bekerja di perusahaan-perusahaan di Taiwan sebagian besar dipenuhi oleh tenaga kerja asing, termasuk Indonesia.

Bayangkan bagaimana penting rasanya energi listrik bagi mereka sehingga perusahaan listrik tidaklah cukup satu. Dan sekarang lihatlah ke Aceh, energi listrik hanya dipasok dari Si Gura-gura yang berada di Medan. Satu sumber listrik ini dikeroyok ramai-ramai oleh penduduk Aceh dan Medan. Sehingga wajarlah kalau harus digilir.

Energi listrik di Taiwan diproduksi dari beberapa macam sumber energi. Yang terbesar dihasilkan oleh energi thermal sebesar 54% dan disusul oleh energi nuklir sebesar 12,6%. dan sisanya diproduksi dari beberapa sumber energi yang lain, termasuk hidro dan energi terbarukan lainnya. [sumber]

Produksi energi listrik di Taiwan

Dari gambar di atas kita bisa melihat bahwa energi listrik di Taiwan paling besar juga dihasilkan dari bahan bakar fosil, sama seperti negara kita. Dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tetapi lihatlah pengembangan nuklir mereka juga meningkat walaupun tidak drastis. Namun menduduki di tingkat kedua setelah bahan bakar fosil. Sedangkan sumber energi lain seperti hidro dan energi terbarukan hanya menyumbang sebagian kecil.

Tentang nuklir ini menarik karena sekarang sebagian besar negara-negara berkembang di dunia sedang mengembangkan energi nuklir untuk listriknya. Namun di Indonesia masih terus terhambat karena berbagai macam alasan. Hambatan terbesar adalah ketakutan yang terlanjur tertanam dalam pikiran kita. Sehingga setiap rencana pembangunan reaktor nuklir akan selalu diramaikan oleh unjuk rasa penolakan.

Padahal negara-negara lain selama ini enjoi-enjoi saja dengan energi nuklirnya. Termasuk Taiwan tidak ada masalah dengan teknologi nuklir mereka. Belum pernah kita dengar ada penduduk yang mati karena pengembangan energi nuklir mereka.

Ya, kalau kita mungkin enjoi dengan byar pet-nya, sehingga lilin jadi laris manis. Dan kadang-kadang rumahpun ikut terbakar karena lupa mematikan lilin ketika listrik hidup.😦

Posted in Catatan Harian | Tagged , | Leave a comment

Jalan-jalan Ke Pasar Tradisional Kaohsiung, Taiwan

Kemarin sore teman satu lab ingin berbelanja ke pasar tradisional, namanya Minh Tai dan Minh Phu. Mereka berdua adalah teman baikku di lab CAE. Sama seperti aku mereka juga mahasiswa doktor. Mereka mengajakku untuk mengikut. Akupun tidak menolaknya. Maksudku mengikut bukan untuk berbelanja tentunnya, melainkan hanya ingin melihat-lihat dan mengambil foto saja.

Ketika mereka mengajakku, aku melihat ke arlojiku sebelum mengiyakan. Jam menunjukkan pukul 17:30 kala itu, dan waktu Magrib untuk Kaohsiung pukul 18:43. “Ya. Aku ikut” jawabku dengan penuh keyakinan kerena tidak terbentur dengan waktu shalat Magrib.

Namun setelah mengiyakan aku sempat mau merubah pikiran karena perutku sangat lapar, aku ingin ke warung makan saja.

“Aku mau makan saja lah, tidak jadi pergi. Aku lapar” kataku.

“Hei. Kamu sudah gemuk itu, janganlah hanya makan yang kamu pikir. hahahaha” kata Minh Phu dengan nada bercanda.

“Hahahahaha. Oke lah Aku ikut” jawabku.

Aku bergegas mengambil kamera saku di laci mejaku. Aku selalu membawa kamera ketika pergi ke mana-mana, karena aku ingin mengabadikan situasi tempat yang aku kunjungi.

Pasar itu tidak jauh dari kampus kami, hanya berjarak dua kilometer. Kami bertiga bersepeda ke sana. Minh Phu dan Minh Tai berboncengan sedangkan aku sendiri dengan sepeda mungilku, si hitam dari Mbak Ahong.

Hanya sekitar 10 menit kami sudah tiba di depan pasar tradisional itu. Kami memarkirkan sepeda kami di antara kawanan sepeda motor. Biarpun hanya sepeda kami tetap menguncinya untuk keamanan, walaupun selama ini belum pernah aku dengar ada sepeda yang hilang di sekitarku.

Dua temanku yang dari Vietnam itu langsung mencari dan membeli apa yang mereka butuhkan, sedangkan aku sibuk mengambil foto barang-barang dagangan di pasar itu. Sekali-kali melihat ke arah mereka biar tidak ketinggalan.

Mulai dari penjual kue, buah-buahan, sayur-sayuran, kerang, ikan, dan mulai dari daging ayam sampai daging babi semua aku ambil fotonya. Untuk yang daging babi aku mengambil fotonya dengan hati-hati, aku takut kejipratan airnya.😀

Dari sekian banyak barang yang dijual di sana, Banyak juga yang sudah pernah aku lihat di Indonesia dan ada beberapa juga yang belum pernah aku lihat. Rasanya juga belum pernah kucoba.

Dulu waktu makan di warung vegetarian pernah mencoba sayur yang belum pernah aku makan di kampung halamanku. Begitu aku makan sedikit ternyata mulutku jadi gatal. Akhirnya aku tidak jadi makan lagi sayur itu, dan aku sisihkan ke pinggir piring.

Sekarang tidak mau lagi coba-coba. Aku hanya memesan sayur yang rasanya sudah aku ketahui, untuk perut tidak perlu coba-coba.

Yang ini buah apa ya? Aku belum pernah lihat di Indonesia. :-D

Yang ini buah apa ya? Aku belum pernah melihat di Indonesia. Ada juga yang berwarna hijau loh😀

Ini lagi buah apa ini? hahahahaha. Kulit nya berbulu

Ini lagi, buah apa ini? hahahahaha. Kulit nya agak berbulu. Gatal tidak ya..?

Ini juga buah apa ya.? seperti ketela tapi ada jambulnya. :-D

Ini juga buah apa ya.? seperti ketela tapi ada jambulnya.😀

Ada yang menarik di antara sekian banyak barang dagangan di situ, adalah daun pakis. Dalam bahasa Aceh disebut dengan “on paku“, ternyata juga dijual di Taiwan. Saya tidak menyangka ini.

Daun pakis ini adalah sayur faforitku. Kalau pulang kampung, aku sering meminta ibuku mengurap pakis ini. Di Aceh terkenal dengan sebutan “on paku teucicah” atau kalau diterjemahkan kira-kira “daun pakis terurap”.

Di Aceh, daun pakis ini selain bisa kita beli di pasar juga bisa kita petik sendiri di pinggir-pinggir paya. Dia hidup dengan mudah di daerah yang agak berair.

Setahuku pakis ini tidak pernah dibudidayakan di Aceh, mungkin saja dikarenakan daun ini masih mudah sekali didapatkan tanpa harus dibudidayakan. Namun di Taiwan mungkin saja dibudidayakan, karena aku lihat bentuknya sangat rapi-rapi dan bersih-bersih.

Daun Pakis di Pasar Tradisional Taiwan

Daun Pakis di Pasar Tradisional Taiwan

Dari pemandangan di pasar tradisional tersebut, budaya makan Taiwan hampirlah sama dengan kita di Indonesia. Memang sih, kita kan sama-sama orang asia. Tumbuhan yang tumbuh di Indonesia pun sebagian besar bisa tumbuh di Taiwan. Jadi not much different lah. Hampir sama.

Rekan-rekan yang mau melihat foto selengkapnya bisa melihat di sini

Salam dari Kaohsiung, Taiwan..🙂

Posted in Catatan Harian | Tagged | 2 Comments

Kunjunganku Yang Kedua Ke Meinong Hakka Farm Village

Hari Sabtu 31 Mei 2014 lalu International Office mengadakan Business Trip lagi. Kali ini tujuannya adalah mengunjungi sebuah desa suku Hakka, Meinong. Ini adalah kali kedua saya datang ke tempat ini. Yang pertama ketika saya sedang mengikuti program Degree Bridging di awal tahun 2013 lalu.

Baguslah bagiku, karena kunjungan gratisan ini diadakan satu hari setelah ujian kualifikasi doktorku. Jadi lumayanlah untuk menghilangkan ketegangan karena ujian yang sangat menakutkan itu.

Desa Meinong ini tidaklah jauh dari kampus kami. Hanya satu jam perjalanan dengan bis carteran, karena tempatnya masih berada dalam kota Kaohsiung. Cuma kampung suku Hakka ini kerliatannya agak ke perbukitan, sedangkan Kaohsiung terletak di pinggir laut.

Pemandangan lahan pertanian sudah mulai terlihat di awal-awal kami memasuki desa itu. Jenis pertanian beraneka-ragam, mulai sayur-sayuran, buah jambu biji, mangga, dan padi juga ada.

Sekitar jam 10 kami sudah tiba di sana. Tempat ini tentunya tidak asing lagi bagi saya karena sudah pernah berkunjung sebelumnya. Tempat ini sebenarnya semacam galeri sederhana untuk memperkenalkan budaya suku Hakka, yaitu salah satu suku di Taiwan.

Aku di pintu gerbang masuk ke lokasi galeri Hakka Village

Aku di pintu gerbang masuk ke lokasi galeri Hakka Village

Tempatnya sangat sederhana, malah kalau boleh saya bilang seperti tidak terurus. Tapi mungkin itu adalah ciri khas yang memang harus dipertahankan oleh mereka agar bentuk budaya aslinya tidaklah hilang.

Untuk tahap pertama kami dipersilakan masuk ke sebuah beranda yang dilengkapi meja dan kursi panjang yang terbuat dari kayu. Di situ kami diberi penjelasan panjang lebar tentang suku Hakka. Tapi maaf, mereka menyampaikannya dalam bahasa Mandarin. “Manalah aku mengerti kawan. Aku kan sedang belajar bahasa mandarin.?”

Kami beserta buah-buahan yang akan kami masak

Kami beserta buah-buahan dan telur yang akan kami masak dengan cara khas Hakka

Tapi tidak apalah, karena aku duduk sebangku dengan Prof. Peifen. Sehingga dia bisa menjadi penerjemah bagiku hari itu. Aku hanya menanyakan garis-garis besarnya saja. Minimal aku tahu apa topik yang mereka bicarakan. isinya ya diterka-terka saja.😀

Setelah mereka  berbicara panjang lebar kemudian kami diajak untuk memasak dengan cara khas suku Hakka. Caranya sungguh unik; memasak dengan cara menggali lubang di tanah kemudian di atas lubang itu ditutup dengan susunan batu-batu. Selanjutnya api dinyalakan di dalam lubang itu sehingga batu yang di atas lubang tadi menjadi panas.

Cara memasak suku Hakka di Meinong, Taiwan

Cara memasak suku Hakka di Meinong, Taiwan

Setelah api dinyalakan ternyata kita harus menunggu lumayan lama agar batu-batu itu menjadi cukup panas. Oleh karena itu, kami diajak menuju ruang kedua. Di mana kami masing-masing diberi satu kipas. Dan kami diminta untuk melukis sesuatu di atas kipas itu. Apa yang mau digambar maka gambarkan lah. Kalau dulu di SD itu namanya menggambar suka hati. Mereka menyediakan cat dengan beberapa warna untuk aktifitas ini.

Hasil karya saya. Gambar buah-buahan

Hasil karya saya. Gambar buah-buahan

Setelah selesai gambar-menggambar kemudian kami diajak lagi ke dapur tadi. Inilah saatnya memasak, kayu yang dimasukkan ke lubang tadi sudah habis terbakar dan hanya menyisakan bara api. Sisa-sisa kayunya dibuang keluar sehingga hanya bara api yang tertinggal di lubang itu.

Kemudian jagung, ketela, ayam, dan telur yang telah kami bungkus dengan aluminium foil dan kertas koran kami masukkan ke dalam lubang tadi. Batu yang menutupi sebagian permukaan atas lubang tadi diambrukkan ke dalam lubang yang telah diisi tadi.

Langkah selanjutnya adalah menutup lubang itu dengan tanah yang sudah berbentuk debu hitam itu, mungkin karena sudah sering terbakar makanya hitam. Kami menutupnya dengan menggunakan sekop dan cangkul. Ternyata lumayan sulit untuk menutupnya, capeknya minta ampun, karena tanah sudah bercampur dengan batu-batu sehingga sangat sulit disekop atau dicangkul. Tambahan lagi suhu udara di tengah musim panas benar-benar aku marasakan badanku bagai dipanggang.

Panas di Taiwan ini ternyata beda dengan panas di negeriku. Panas di sini sangat menyengat dan lembab. Benar-benar gerah bandanku dibuatnya.

Menutup lubang tadi ternyata tidak boleh sembarangan. Kita harus menutup sampai tidak ada asap yang bisa keluar dari celah-celah tanah. Harus rapat betul, sebab kalau tidak maka panasnya akan hilang.

Setelah selesai menutup lubang itu dengan sempurna kemudian kami diajak untuk menuju tempat penggilangan teh khas suku Hakka. Kali ini aku tidak mau ikut lagi karena aku sanghatlah capek dan ruangan tempat penggilingan itu pun lumayan panas.

Aku memilih tinggal saja di tempat semula dengan beberapa teman Vietnam. Lagi pula aku sudah tahu juga cara menggiling teh itu. karena sudah pernah diajarkan dulu pada kunjungan yang pertama. Tapi demi alasan untuk mengambil foto, aku masuk juga sebentar ke ruangan itu, setelah mengambil beberapa foto kemudian aku keluar.

Teh khas Hakka Meinong Taiwan

Teh khas Hakka Meinong Taiwan

Sambil menunggu teman. Saya menyempatkan diri tidur sebentar untuk menghilangkan capek. Tapi aku tetap tidak bisa tidur karena sangat panas udaranya. Kipas yang dipasang pada atap bangunan itu hanya mampu meniup udara panas ke arahku. Aku tidak menyangka Taiwan sepanas ini ketika musim panas. ” Ternyata musim dingin lebih enak.😦 “

Sekitar satu jam teman-teman yang ikut ke penggilingan teh tadi pun kembali. Sekarang saatnya lubang dapur tadi dibuka. Kami diminta untuk membukanya sendiri. Aku, Prof. Peifen, dan dibantu oleh beberapa teman yang lain membuka lubang itu dengan hati-hati agar tidak melukai makanan-makanan yang telah kami masukkan.

Membuka urukan tanah untuk mengambil masakan

Membuka urukan tanah untuk mengambil masakan

Satu-persatu makanan kami ambil dari tanah panas yang sudah menyerupai abu itu. Setelah selesai kami kumpulkan semua kemudian kami bersihkan dengan membuang bungkusan koran dan hanya aluminium foil yang tertinggal.

Aku juga mencoba sedikit dari daging ayam itu. Karena hanya ingin tahu pengaruh rasanya ketika dimasak dengan cara seperti itu. Tapi terus terang aku tidak bisa merasakan perbedaannya. Sama saja dengan memasak dengan kompor. Tapi untuk jangung, ketela, dan telor ada perbendaannya. Rasanya agak ada gurihnya sedikit.

Hasil masakan kami

Hasil masakan kami

Setelah acara makan-makan kemudian kami meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan ke Christian Mountain Children’s Home, semacam yayasan panti asuhan Kristen. Keliatannya acara di tempat itu lebih kepada acara amal. Di situ kami juga diajak ke sebuah galeri lukisan hasil karya mereka.

Demikian perjalan Bisnis Trip kali ini….. Selamat akhir semester. Semoga nilainya pada bagus-bagus..😀

Untuk melihat foto selengkapnya silakan klik di sini

Posted in Catatan Harian | Tagged , , | Leave a comment

Kuliah Ke Taiwan Dengan Beasiswa Dikti, Siapa Takut..?

Selama aku kuliah di Taiwan ini sangat banyak pertanyaan dari teman-teman melalui inbox facebook-ku. Pancaran ketakutan tercermin dari pertanyaan-pertanyaan mereka. Rata-rata mereka meresahi keterlambatan pencairan dan takut jika besaran beasiswa tidak mencukupi biaya hidupnya di Taiwan.

Namun bagaimana sih sebenarnya kondisi beasiswa Dikti itu? Di sini aku akan menceritakan pengalamanku pribadi sebagai penerima beasiswa Dikti selama setahun kuliah di Taiwan. Format beasiswa kami adalah “3+1”, artinya 3 tahun ditanggung oleh Dikti dan kalau tidak lulus 3 tahun maka tahun keempat akan ditanggung oleh pemerintah Taiwan.

Saya adalah dosen masih Asisten Ahli Golongan III-a, bukan rahasia kalau gaji totalnya sebesar Rp. 2800.000,-. Istriku masih kuliah di Banda Aceh tingkat akhir Akper Kemenkes. Uang kuliah istriku masih ditanggung oleh mertuaku, jadi aku hanya menanggung biaya hidupnya di Banda Aceh.

Setelah kami menikah pada 23 Maret 2013, dua bulan kemudian aku meminta izin kepada istriku untuk melanjutkan studi ke Taiwan. Walaupun dengan sedih akhirnya aku diizinkan kuliah lagi, dan istriku juga kembali menyelesaikan kuliahnya yang hanya tinggal sedikit lagi.

Pada saat aku berangkat aku diharuskan melapor ke Dikti di Jakarta sebelum terbang ke Taiwan. Sehingga jadwal pesawat dari tempat asal ke Jakarta dan Jakarta ke Taiwan akan diatur sedemikan rupa agar aku bisa melapor ke Dikti sebelum terbang ke Taiwan. Jadwal pesawat ini akan diatur oleh jasa trevel yang ditunjuk oleh Dikti. Jadi aku hanya pesan tiket saja untuk tanggal berapa aku mau berangkat.

Dulu ketika aku melapor ke Dikti, di situ aku diberikan settling allowance sebanyak 700 USD dan biaya hidup bulan pertama sebayak 700 USD pula. Jadi aku membawa uang tunai ketika itu sebanyak 1400 USD. Maka janganlah sampai berpikir harus jual sapi-kerbau untuk biaya awal keberangkatan, karena uang 1400 USD itu cukup untuk kebutuhanku sebelum Dikti mencairkan biaya hidup selanjutnya. Termasuk buat beli kasur, bantal + guling, perkakas mandi, selimut, dan perkakas cuci dan jemur.

Enam bulan setelah aku kuliah di Taiwan, gaji fungsional dosenku dihapus karena begitulah peraturan untuk dosen yang kuliah keluar negeri. Gaji fungsional dipotong pada bulan ke-7, sehingga sisa gajiku sekarang Rp. 2500.000,-. Alhamdulillah dengan jumlah gaji segitu sudah cukup untuk kebutuhan istriku di Banda Aceh, sedangkan kebutuhanku di Taiwan sudah ditanggung beasiswa.

Pendek kata, aku tidak membawa masalah keuangan keluarga ke Taiwan. Di Taiwan aku benar-benar bisa fokus kepada kuliah dengan tanpa dihantui oleh kesulitan keuangan keluarga kami. Memang bagi rekan-rekan yang sudah memiliki tanggungan keluarga yang besar akan terasa sulit untuk kuliah lagi, walaupun tetap masih mungkin.

Karena ketika kita sudah siap memilih untuk kuliah maka kita juga harus siap jika uang fungsional dan sertifikasi dosen kita dihapus. Lebih parah lagi jika selama ini gaji dipotong untuk angsuran kredit, maka untuk kasus semacam ini lebih baik berpikirlah dulu beberapa kali sebelum melangkah, karena satu bulan saja terlambat cair beasiswa maka satu keluarga akan menderita.

Untuk karyasiswa di Taiwan, Dikti memberikan biaya hidup sebesar 700 USD/bulan dan biaya buku 250 USD/semester. Sedangkan biaya hidup di Taiwan, khususnya Kaohsiung, maksimum 9000 NT/bulan atau setara dengan 300 USD, sehingga lebihnya bisa ditabung.

Untuk semester pertama dan kedua ini kampusku menggratiskan biaya asrama, sehingga biaya hidupku bisa ditekan lagi menjadi 5000 NT/bulan, dan untuk semester depan kelihatannya kami harus membayar uang asrama. Tetapi yang jelas 700 USD itu lebih dari cukup untuk hidup di Taiwan.

Pengalamanku selama dua semester, biaya hidup dan biaya buku itu dikirim sekaligus untuk satu semester. Sehingga kita harus pintar-pintar mengatur uang sendiri. Dan untuk biaya kuliah dikirim lebih awal secara terpisah.

Aku lebih suka dikirim sekaligus walaupun telat sedikit karena setiap pengiriman uang akan dikenakan ongkos kirim dan ongkos ganti mata uang. Taiwan Business Bank mengenakan biaya 27,5 USD untuk sekali kirim dan ditambah ongkos tukar mata uang sebanyak 200 NT karena mata uang USD akan dirubah ke NT (mata uang Taiwan) sebelum dimasukkan ke rekening kita.

Untuk semester kedua kemarin memang kiriman biaya hidupnya lumayan terlambat, hampir Mid-semester baru cair. Namun uang kuliah sudah lebih dulu dikirim di awal semester, jadi yang terlambat adalah biaya hidup dan uang buku. Keterlambatan Itu tidak bermasalah bagiku karena cadangan uang hasil tabungan semester pertama masih cukup.

Jadi kesimpulannya, jika tidak membawa masalah keuangan keluarga maka kuliah ke Taiwan dengan beasiswa Dikti adalah enjoi-enjoi saja. Tidak ada masalah sama sekali. Jumlah biaya hidup yang diberikan Dikti lebih dari cukup.

Untuk melihat video pengalamanku silakan lihat di sini

Sekian, semoga bermamfaat…🙂

Posted in Catatan Harian | Tagged | 9 Comments

Sistem Kalender Islam, Materi Pengajian Ranup Lampuan Di Tainan

Kemarin saya dan beberapa teman Aceh lain mengadakan pengajian di Tainan. Sekaligus acara silaturahmi dan makan-makan. Pengajian dibuat dalam dua sesi. Sesi pertama bertemakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar yang diisi oleh Pak Tri dan sesi kedua adalah Sistem Penanggalan Hijriah yang disampaikan oleh saya sendiri.

Dalam membahas tentang Sistem Penanggalan Hijriah, saya mengawali dengan mennjelaskan tentang orbit bumi dan bulan, yang pada akhirnya berujung pada penjelasan tentang ijtimak atau konjungsi.

Saya menekankan pada penjelasan ijtimak ini karena ini merupakan titik balik pergantian dari hilal tua ke hilal muda. Hilal tua terbentuk sebelum ijtimak dan hilal muda terbentuk setelah ijtimak. Setelah menjelaskan apa itu ijtimak, maka penjelasan berlanjut ke beberapa kriteria awal bulan yang dipakai di Indonesia, baik Wujudul Hilal maupun Imkan Rukyat 2º. Untuk berikutnya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Dari sesi tanya jawab itu saya sadar ternyata teman-teman memiliki segudang pertanyaan terkait Ilmu Falak ini. Mulai dari awal bulan, sistem rukyat, sampai dengan angka-angka yang ada pada jadwal imsakiyah, Semua menghujaniku kemarin sore.

Sebagai contoh di sini saya kutip dua pertanyaan dari teman-teman dan sekaligus jawaban saya.

1. Pak, Waktu imsak itu sebenarnya untuk apa..? Bukankah waktu makan sahur itu sampai waktu Shubuh..?

Jawaban:

Perlu diketahui bahwa waktu imsak yang mashur sekarang adalah waktu Shubuh dikurang 10 menit. Sebenarnya nilai itu tidak tetap karena ada juga ulama Falak menetap 15 menit sebelum Shubuh.

Sebenarnya waktu imsak itu berangkat dari sebuah hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:

زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ثُمَّ قُمْنَا إلَى الصَّلَاةِ» ، وَكَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا خَمْسِينَ آيَةً

Artinya:

Zaid Bin Tsabit Berkata: Kami bersahur bersama Rasulullah SAW kemudian kami mendirikan shalat, dan ukuran waktu antara shahur dan shalat tadi adalah waktu yang dibutuhkan untuk membaca 50 ayat. (Sumber: Syarah Muhalli ‘Ala Minhaj)

Dari hadist tersebutlah diambil kesimpulan bahwa waktu imsak itu adalah sebelum masuk waktu shubuh dengan kadar waktu yang dibutuhkan untuk membaca 50 ayat Alqur’an. 50 ayat inilah yang kemudian diterjemah menjadi 10 menit atau 15 menit.

Tetapi karena ada hadist lain yang menyatakan bahwa waktu imsak adalah waktu shubuh, maka saya menyarankan kepada rekan-rekan di pengajain kemarin sebagai berikut:

  1. Jika waktu tidak kepepet maka sebaiknya berhentilah makan ketika waktu imsak datang, karena memang rasulullah tidak makan dan minum lagi kadar 50 ayat sebelum shubuh sebagaimana hadist di atas.
  2. Kalau telat terbangun shahur dan sudah kepepet maka teruskan makan sampai waktu Shubuh datang. Tetapi perlu diingat bahwa waktu shubuh yang di imsakiyah sudah ditambah 2 menit dari waktu sebenarnya, ini adalah sebagai pengaman (ikhtiyath). Jadi benar-benar berhentilah makan 2 menit sebelum waktu shubuh yang tertera di imsakiyah.

2. Pak. Kenapa sekarang terasa hari-hari berjalan cepat sekali…?

Jawaban saya:

Itu hanya efek psikologis. Mungkin karena terlalu sibuk sehingga tidak terasa waktu berjalan.

Memang bumi ada mengalami perlambatan rotasi akibat daya tarik bulan, tetapi ternyata secara alami rotasi bumi akan terkoreksi sendiri dengan aktifitas pergeseran lempengnya. Tentang ini lebih luas bisa dibaca di tulisan guru saya Bapak Thomas Djamaluddin (Ketua LAPAN Sekarang). Untuk membacanya silakan klik di sini.

Sebenarnya masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang lain, tetapi secara garis besar sudah terjawab dengan tulisan saya sebelumnya.

Posted in Ilmu Falak | Tagged , , | Leave a comment

Kekayaan Laut Taiwan Juga Memesonakan Aku

Salah satu tempat yang paling kusukai di Taiwan adalah pasar ikan tradisional. Padahal kalau di Aceh aku paling tidak suka jika disuruh pergi ke pasar ikan. Karena tempatnya pasti kotor, bau, dan berdarah-darah.🙂

Di Taiwan aku merasakan lain. Pasar ikan tradisional di sini sangat bersih dan menarik. Cara mereka menjajakannya pun sangat menarik, ikan ditata dalam wadah yang berwarna-warni, warna yang dominan adalah merah. Sehingga memberikan kesan semarak dan indah.

Suasana pasar ikan yang indah dan bersih

Suasana pasar ikan yang indah dan bersih

Aku kemarin kebetulan diajak oleh Pak Zainal ke daerah Ziguan Ditrict untuk membawa barang dagangan ke warungnya di daerah itu. Setelah menaruh semua barang di warung kemudian aku diajak ke pasar ikan tradisional yang ada di sekitar warung itu. Tempatnya tidak jauh dari warung, sehingga kami hanya berjalan kaki.

Pastinya aku tidak akan menolaknya, karena aku tahu kalau pasar ikan di Taiwan pasti menarik untuk dilihat. Aneka jenis ikan, kerang, dan kepiting dengan berbagai macam jenis dapat dilihat di sini. Aku tentu bukan bermaksud untuk membelinya karena di asramaku tidak biasa memasak. Aku hanya ingin melihat-lihatnya saja, karena ikan dengan jenis beraneka ragam yang tidak pernah kujumpai sebelumnya. Ikan dengan bentuk yang aneh, udang bertubuh panjang, dan kepiting yang berwarna-warni.

Aneka kekayaan bahari di Taiwan

Aneka kekayaan bahari di Taiwan

Ketika Pak Zainal sedang sibuk bertawar-menawar ikan, Aku justru sibuk dengan kamera telefon gemgamku. Hampir seluruh sudut pasar aku ambil gambarnya. Mengabadikannya merupakan kepuasan tersendiri bagiku.

Menarik memang ketika melihat jenis ikan dan udang yang mereka jual kadang-kadang masih hidup karena ditampung dalam akuarium ber-oksigen. Sehingga ikan segar juga masih bisa kita peroleh di pasar ini.

Malahan ada yang menarik lagi dan membuat aku tertawa, aku melihat ada ikan yang dijual obral seperti penjual kain di hari pekan. Harganya dipasang mulai dari yang tinggi dan diturunkan sampai ke titik terendah sapai ada yang mau membelinya. Menarik sekali, karena di kampungku sistem penjualan seperti itu hanya dilakukan untuk menjual kain pada hari Selasa.

Penjual sedang mengobral ikan

Penjual sedang mengobral ikan

Satu lagi ada yang menarik adalah di pasar ini juga ada warung yang menjual ikan dan langsung dimasak dan dimakan di situ. Kita bisa memilih ikan yang kita sukai kemudian dimasak dan siap disajikan dalam keadaan masih panas. Kepiting dan kerang rebus juga menghiasi di sepanjang jalan sekitar pasar itu.

Warung makan ikan segar

Warung makan ikan segar

Pasar ini memang terletak di dekat tempat pendaratan ikan, sehingga untuk memperoleh ikan segar tidak begitu sulit. Ikan langsung dijual ke pelangggan segeral setelah didaratkan.

Selama di Taiwan Aku sudah mengunjungi dua tepat penjualan ikan. Satunya ketika sedang berkunjung ke Ping Hua Cafe, dan yang kedua adalah pasar ikan ini. Dua-duanya sama-sama menarik dan menggugah selera.

Untuk foto selengkapnya bisa dilihat di video di bawah ini:

Untuk foto dengan ukuran besar bisa di lihat di sini

Posted in Catatan Harian | Tagged , | Leave a comment

Hari Pertama Memperoleh Kartu Asuransi Kesehatan Nasional Taiwan

Bukanlah bermaksud berharap sakit, tetapi mendapatkan kartu asuransi kesehatan National Health Insurance merupakan kegembiraan tersendiri bagiku selama tinggal di Taiwan ini, dan aku yakin bagi teman yang lain juga demikian adanya.

Kartu Asuransi ini baru bisa diperoleh oleh penduduk asing di Taiwan jika sudah sampai 6 bulan lamanya tinggal di negeri ini. Terhitung mulai awal kita masuk dan terdata oleh imigrasi Taiwan di bandara.

Aku masuk ke Taiwan pada tanggal 25 Oktober 2013 sehingga 25 April 2014 genap 6 bulan aku berada di Taiwan ini. Namun aku baru mendapatkan kartu tersebut hari ini, telat seminggu mungkin itu disebabkan oleh waktu pengiriman.

Untuk asuransi ini memang kita harus membayar tiap bulannya. Namun aku tidak tahu jumlahnya berapa karena sudah dimasukkan dalam faktur biaya kuliah dan semuanya dibayar oleh pemerintah RI melalui beasiswa DIKTI.

Kartu Asuransiku. Maaf saya coret-coret, takut di salah gunakan. :-D

Kartu Asuransiku. Maaf  aku coret-coret, takut disalah gunakan.😀

Dengan mendapat kartu ini tentunya sangat meringankanku jika seandainya aku nanti jatuh sakit di negara ini. Menurut informasi yang aku peroleh, kalau kita berobat ke klinik kita hanya perlu membayar 100 NT atau 150 NT untuk sekali periksa dan lengkap dengan obat-obatnya.

Saya dengar cerita ada seorang teman yang harus dioperasi besar, jika tanpa kartu ini harganya bisa mencapai 100 ribu NT (sekitar 38 juta Rupiah). Namun karena ada asuransi ini maka dia hanya perlu membayar 10 ribu NT. Bayangkan dengan tanpa asuransi kita harus bayar 10 kali lipatnya. Dan ada lagi teman yang berobat ke klinik gigi, Dia harus membayar 1000 NT karena belum mempunyai kartu ini, kalau sudah ada kartu asuransi mungkin bisa sepertiganya.

Sependek pengetahuanku, semua klinik yang berada di Taiwan menerima pasien dengan asuransi nasional. Pengalaman kemarin ketika aku berobat ke salah satu klinik di dekat kampus, mereka menanyakan kartu asuransiku. Aku bilang kalau aku belum mempunyainya karena belum sampai 6 bulan aku tinggal di Taiwan ini.

Setiap klinik yang menerima asuransi nasional pasti mereka memasang papan reklame yang berlogo National Healt Insurance. Bukan hanya klinik umum, namun klinik spesialis juga banyak aku jumpai memiliki logo ini di depannya; seperti klinik mata dan gigi.

Salah satu Klinik yang melayani National Health Insurance di kota Kaohsiung, lihat ada logonya kan.?

Salah satu Klinik yang melayani National Health Insurance di kota Kaohsiung, lihat ada logonya kan.?

Sekali lagi bukan bermaksud ingin sakit, namun dengan adanya asuransi ini paling tidak mengurangi kecemasanku jika seandainya aku jatuh sakit di suatu saat. Sungguh tak dapat dipungkiri betapa sedihnya dan tertekannya jika kita sakit di perantauan. Walaupun ada teman tentu berbeda halnya dengan keluarga yang sudah sangat mengerti kita.

Selama 8 bulan di Taiwan ini aku sudah pernah sakit sekali; yaitu pada awal semerter kedua kemarin. Sebenarnya sakit sudah sejak masih berada di kampung halaman ketika pulang libur musim dingin yang lalu, cuma pas ketika mau berangkat badanku sudah  agak mendingan dan demamku pun turun.

Dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Taipei sebenarnya badanku sudah tidak enak, namun untung bagiku ketika melintasi di depan sensor suhu di bandara temperatur badanku normal, kalau tidak maka aku mesti diperiksa dulu untuk pengecekan, jangan-jangan aku membawa penyakit menular dan akan menjangkiti warga Taiwan. Tapi Alhamdulillah aku lolos karena suhu badanku normal ketika itu.

Setelah tiga hari sekujur badanku terasa sakit, lebih-lebih di bagian punggungku. Demam pun datang disertai muntah-muntah, dan perutku sakit dan kembung. Minggu itu aku tidak bisa makan apa-apa, bahkan mencium bau makanan pun bisa membuat aku muntah. Sudah lama aku tidak sakit sedemikian.😦

Saat itu pikiranku sudah terbayang kemana-mana; kalau-kalau sakitku parah bagaimana ya? siapa yang akan mengurusiku di sini? terus biaya berobat bagaimana?. Bahkan lebih parah lagi sampai terbersit tanya di hatiku saat itu; kalau aku mati di sini bagaimana ya?. Karena aku memang suka berlebihan dalam hal kecemasan, tetapi aku yakin itu semua bisa terjadi dalam pikiran semua perantau walaupun mungkin intensitas saja yang berbeda-beda.

Kala itu aku belum mempunyai kartu asuransi ini karena belum sampai 6 bulan aku tinggal di Taiwan. Aku berobat ke klinik di dekat kampusku. Di klinik itu aku harus membayar 300 NT dengan obat-obatan untuk 3 hari minum. Namun sampai 3 hari berlalu aku tidak kunjung sembuh, badanku masih sakit semua walaupun demamku sudah agak turun. “Aku harus berobat lagi,” pikirku, maka aku berencana akan ke klinik lagi tapi tidak ke klinik itu lagi.

Untuk yang kedua ini aku mengajak temanku yang asli Taiwan dengan harapan dia tahu doktor yang bagus. Dia mengajakku ke klinik yang agak jauh sedikit dari kampus. Sehingga kami berangkat dengan motor (honda kalau di Aceh). Aku harus membayar 350 NT dengan obat yang lumayan banyak. Aku tidak tahu untuk berapa hari konsumsi diberikan di situ, karena sekitar 2 hari aku miminumnya sakitku sudah sembuh dan sudah bisa makan walaupun harus kukunyah 30-an kali, untuk menghindari sakit perut lagi.

Itu adalah sepenggal kisah tentang perjalanan sakit pertamaku di Taiwan dan semoga itu adalah yang terakhir. Beban psikologis sangat berat jika sakit ketika jauh dari keluarga. Walaupun sudah ada kartu asuransi biarlah dia hanya menjadi penghibur dan penebal dompetku saja.

Baiklah teman semua, selamat akhir pekan…….🙂

Posted in Catatan Harian | Tagged , , | Leave a comment